Wow! AS Jual 100 Sistem Pertahanan Pantai Senilai Rp35 Triliun ke Taiwan
Beijing telah meningkatkan tekanan diplomatik dan militer terhadap Taiwan sejak terpilihnya Presiden Tsai Ing Wen pada 2016. Sang presiden secara tegas menyatakan Taiwan sebagai negara berdaulat de facto dan bukan bagian dari “Satu China”—konsep yang selalu didengung-dengungkan Beijing.
Jet tempur dan pembom China telah memasuki zona pertahanan udara Taiwan dengan frekuensi yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Sementara, film propaganda produksi Beijing telah menunjukkan simulasi serangan China di beberapa wilayah—yang diperlihatkan mirip Taiwan.
Rabu (21/10/2020) lalu, AS menyatakan telah menyetujui penjualan 135 rudal jelajah AGM-84H SLAM-ER yang dipandu presisi dan diluncurkan dari udara senilai 1 miliar dolar AS. Rudal itu tidak seperti Harpoon, yang jangkauannya lebih besar dari lebar Selat Taiwan yang memisahkan pulau itu dari daratan Cina.
Sebagai respons atas penjualan rudal itu, China pada Senin (26/10/2020) menyatakan akan menjatuhkan sanksi pada Lockheed Martin selaku divisi pertahanan Boeing, serta perusahaan-perusahaan AS lainnya yang terlibat penjualan senjata ke Taiwan.
Juru Bicara Kemlu China, Zhao Lijian mengatakan, sanksi itu bertujuan untuk melindungi kepentingan nasional negaranya. “(Sanksi ini) dan akan berlaku bagi mereka yang berperilaku buruk dalam proses penjualan senjata ke Taiwan,” ujarnya.
Zhao tidak memberikan perincian lebih lanjut tentang sanksi tersebut.
Editor: Ahmad Islamy Jamil