Wapres AS JD Vance Sebut Ada Kemajuan Besar dalam Perundingan dengan Iran
JENEWA, iNews.id - Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat (AS) JD Vance mengungkap ada kemajuan signifikan dalam perundingan dengan Iran, Minggu (21/6/2026). Delegasi kedua negara bertemu di Swiss untuk melakulan negosiasi lanjutan setelah penandatangan nota kesepahaman (MoU) perjanjian damai pada Rabu pekan lalu.
Vance mengatakan, kemajuan dicapai dalam beberapa jam pembicaraan dengan Iran. Dia mengungkapkan harapan bahwa kemajuan lainnya akan dicapai dalam pembicaraan berikutnya.
"Kita telah mencapai kemajuan besar hanya dalam beberapa jam terakhir, dan saya berharap akan ada kemajuan tambahan," kata Vance, dalam pernyataannya, di Burgenstock, seperti dikutip dari Anadolu, Senin (22/6/2026).
Vance memimpin delegasi AS dalam perundingan yang dimediasi Pakistan dan Qatar tersebut. Dia didampingi Steve Witkoff, utusan khusus Presiden Donald Trump, serta penasihat Gedung Putih yang juga menantu Trump, Jared Kushner.
Sementara delegasi Iran dipimpin Menteri Luar Negeri (Menlu) Abbas Araghchi yang didampingi ketua parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, bersama dengan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, membuka perundingan yang bertujuan untuk mengimplementasikan MoU perjanjian damai yang ditandatangani pada 17 Juni.
Vance mengatakan bahwa tujuan pembicaraan dengan Iran adalah untuk mentransformasi Timur Tengah.
“Sekarang kita melihat masa depan di mana semua orang bisa bekerja sama untuk mempromosikan perdamaian dan kemakmuran bagi semua orang," ujarnya.
Dia menambahkan jika Iran bersedia melepaskan ambisi untuk memiliki senjata nuklir dalam jangka panjang, maka AS bersedia mengubah hubungannya secara fundamental dengan Iran.
“Itu tentu saja tujuan kami," tuturnya.
Vance juga menyebut perundingan di Swiss sebagai pertemuan bersejarah, belum pernah terjadi sebelumnya pejabat tinggi kedua negara bertemymu di luar Pakistan. Perundingan sebelumnya berlangsung di Islamabad, namun saat itu gagal mencapai kesepakatan damai.
Menurut Vance, Presiden AS Donald Trump telah berkomitmen kepada untuk menatap gencatan senjata penuh di Timur Tengah.
“Kami menemukan mitra yang hebat dalam bekerja sama dengan Qatar, Pakistan, serta teman-teman kami di Israel. Kita semua bekerja menuju perdamaian regional," ujarnya.
Menanggapi pertanyaan tentang pelanggaran gencatan senjata oleh Israel yang terus berlanjut di Lebanon, Vance merespons pemerintahannya melihat kemajuan besar selama beberapa hari terakhir dalam memastikan bahwa gencatan senjata tetap berlaku di Lebanon.
Menurut dia, apa yang terjadi di Lebanon, termasuk serangan Israel yang menewaskan 32 orang dalam sehari, masih lebih mendingan dibandingkan perang bulan-bulan sebelumnya.
“Hal-hal ini sedikit rumit jika Anda kembali ke seberapa banyak yang terjadi 3 bulan lalu, dan membandingkannya dengan 3 minggu lalu,” tambahnya.
Sementara itu, Sharif mengungkapkan harapan bahwa pembicaraan tersebut akan menghasilkan hasil yang produktif.
“Saya kira di sini kita akan melakukan diskusi yang luar biasa, yang mudah-mudahan akan membuahkan hasil yang sangat produktif di masa mendatang,” katanya.
Editor: Anton Suhartono