Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Legenda Spanyol Dicekal Masuk AS jelang Final Piala Dunia 2026, Minta Bantuan Trump
Advertisement . Scroll to see content

Trump Murka Asap Kebakaran Hutan Kanada Selimuti Sebagian Besar AS: Tak Bisa Diterima!

Sabtu, 18 Juli 2026 - 08:12:00 WIB
Trump Murka Asap Kebakaran Hutan Kanada Selimuti Sebagian Besar AS: Tak Bisa Diterima!
Asap kebakaran hutan Kanada menyelimuti sebagian besar AS. termasuk Ibu Kota Washington DC (Foto: AP)
Advertisement . Scroll to see content

WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan kekesalannya atas kebakaran hutan yang melanda Kanada. Pasalnya, asap kebakaran menyeberang ke wilayah AS dan menyelimuti kota-kota besar termasuk New York.

Trump menyebut asap dampak dari kebakaran hutan di Ontario, Kanada, menyelimuti sebagian besar wilayah AS. Dia mengancam akan menaikkan tarif impor produk dari Kanada sebagai ganti rugi untuk menangani polusi udara tersebut.

"Kami meminta Kanada bertanggung jawab atas fakta bahwa mereka tidak merawat hutan dan lahan dengan benar, dan Amerika Serikat diserbu oleh udara kotor yang tidak perlu," katanya, di akun media sosial Truth Social, dikutip Sabtu (18/7/2026).

Dia menambahkan, akibat kebakaran di Kanada, udara di AS tercemar dan tidak sehat, sehingga mmebuat kualitas udaranya membahayakan.

"Sama sekali tidak bisa diterima!" tulis Trump.

Dia akan menghubungi Perdana Menteri Kanada Mark Carney untuk meminta penjelasan apa yang sudah dilakukan negara tetangga itu untuk menangani kebakaran.

Trump menuduh Kanada lalai dalam menangani kebakaran setelah menolak terlibat dalam pengelolaan hutan sehingga bencana ini menjadi rutinitas tahunan yang merugikan  AS hingga miliaran dolar.

"(Biaya polusi) Harus ditambahkan ke tarif yang saat ini dibayarkan oleh Kanada," katanya.

Asap kebakaran hutan Kanada berembus ke selatan, menyelimuti Detroit, Chicago, dan Washington, menempatkan wilayah-wilayah itu dalam daftar kota dengan kualitas udara paling buruk di dunia.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut