Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Piala Dunia 2026 Belum Dimulai, FIFA Terancam Digugat Gara-Gara Bendera Iran
Advertisement . Scroll to see content

Trump Disebut bakal Perketat Syarat untuk Akhiri Perang Iran, Apa Saja?

Senin, 01 Juni 2026 - 04:15:00 WIB
Trump Disebut bakal Perketat Syarat untuk Akhiri Perang Iran, Apa Saja?
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. (Foto: AP)
Advertisement . Scroll to see content

WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut meminta perubahan terhadap sejumlah ketentuan dalam proposal untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran. Hal tersebut diungkap sejumlah laporan media di AS, sementara kesepakatan final hingga kini masih belum tercapai.

Menurut laporan The New York Times, Trump meminta untuk memperketat syarat-syarat dalam kesepakatan tersebut. Menurut sejumlah pejabat yang mengetahui proses negosiasi, AS telah mengirim kembali kerangka kesepakatan yang telah direvisi untuk dipertimbangkan oleh Iran.

Laporan itu belum jelas menjelaskan perubahan apa saja yang dimasukkan ke dalam proposal terbaru tersebut. Namun, Axios melaporkan bahwa Trump ingin memperkuat sejumlah poin yang dianggap penting, termasuk terkait penanganan material nuklir milik Iran.

Seorang pejabat senior AS mengatakan, Trump telah diberi tahu bahwa Iran kemungkinan membutuhkan waktu hingga tiga hari untuk memberikan tanggapan.

“Mereka benar-benar berada di dalam gua-gua dan tidak menggunakan email,” kata pejabat tersebut dilansir dari Al Jazeera, Minggu (31/5/2026).

“Akan ada kesepakatan. Soal kapan tepatnya tercapai, kita lihat nanti. Kami bersedia menunggu agar presiden mendapatkan apa yang dimintanya. Bisa satu minggu, bisa kurang, bisa juga lebih lama. Kami berharap ada perkembangan pada awal pekan depan,” tuturnya.

Perubahan terbaru tersebut berpotensi memperpanjang negosiasi antara kedua pihak selama beberapa hari lagi sebelum diputuskan apakah kesepakatan tersebut dapat mengakhiri perang yang pecah setelah AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari.

Sumber-sumber AS mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa proposal tersebut sebenarnya sudah menunggu persetujuan akhir dari Trump. Namun, Trump belum mengambil keputusan setelah rapat di Situation Room Gedung Putih pada Jumat (29/6/2026).

Trump sebelumnya menyatakan bahwa prioritas utama dalam setiap kesepakatan adalah Iran harus berkomitmen untuk tidak pernah mengembangkan senjata nuklir serta dibukanya kembali Selat Hormuz yang selama ini diblokade. Jalur perairan strategis itu dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Pada Sabtu, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya milik militer Iran kembali menegaskan kendali negara tersebut atas Selat Hormuz. Mereka memperingatkan bahwa kapal-kapal dagang maupun militer asing dapat menjadi sasaran jika tidak mematuhi aturan yang mengatur pelayaran di jalur strategis tersebut.

Di sisi lain, Teheran berulang kali menegaskan bahwa Iran tidak memiliki niat untuk membangun senjata nuklir. Pada Maret 2025, mantan Direktur Intelijen Nasional AS Tulsi Gabbard juga menyampaikan kesaksian di Kongres bahwa Washington masih menilai Iran tidak sedang membangun senjata nuklir.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut