Tenangkan Muslim, Presiden Jerman Sebut Islam Bagian dari Negara
Laporan baru-baru mengungkap, rasisme dan Islamofobia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Jerman.
Laporan yang dirilis pada Juni oleh organisasi non-pemerintah Aliansi Melawan Islamofobia dan Permusuhan Muslim mengungkap, sebanyak 898 insiden anti-Muslim terjadi di Jerman sepanjang 2022. Namun jumlah kasus yang tidak dilaporkan diyakini lebih tinggi lagi.
Disebutkan, perlakuan rasisme sudah menjadi kehidupan sehari-hari umat Islam di Jerman, terutama melibatkan perempuan. Di antara kasus-kasus yang terdokumentasi adalah 500 serangan verbal, termasuk pernyataan menghasut, penghinaan, ancaman, dan pemaksaan.
Selain itu ada 11 surat ancaman yang ditujukan ke masjid-masjid, kekerasan dan pembunuhan. Surat-surat tersebut juga berisi simbol-simbol Nazi atau merujuk pada era Nazi.
Laporan tersebut juga mencatat 190 kasus diskriminasi dan 167 kasus perilaku merugikan. Kategori terakhir mencakup 71 penganiayaan fisik, 44 pengerusakan properti, tiga pembakaran, dan 49 tindak kekerasan lainnya.
Selain itu, serangan bermotif rasial terhadap kalangan muda serta anak-anak semakin meningkat. Kasus yang paling menyita perhatian, perempuan Muslimah diserang di hadapan anak-anaknya serta perempuan hamil ditendang atau dipukul di bagian perut.
Sebagai negara berpenduduk lebih dari 84 juta jiwa, Jerman memiliki populasi Muslim terbesar kedua di Eropa Barat setelah Prancis. Negara itu merupakan rumah bagi 5 juta lebih Muslim.
Editor: Anton Suhartono