Tak Cuma Pesawat Israel, Roket SpaceX Juga Bawa Satelit Indonesia
WASHINGTON, iNews.id - Israel mencetak sejarah dengan meluncurkan pesawat luar angkasa pertama ke bulan. Pesawat bernama Beresheet itu dibawa oleh roket SpaceX yang lepas landas dari Cape Canaveral Florida pada Kamis (21/2) malam.
Memiliki berat 585 kilogram dan tinggi setinggi 1,5 meter, Beresheet memiliki arti "Genesis" dalam bahasa Ibrani ("Pada awalnya").
Pesawat itu lepas landas pada pukul 20.45 (0145 GMT Jumat) di atas roket Falcon 9 dari perusahaan swasta SpaceX yang berbasis di AS, milik pengusaha Elon Musk.
Tak hanya Beresheet, Falcon 9 juga membawa satelit Indonesia dan satelit Laboratorium Penelitian Angkatan Udara AS. Roket itu mengangkut satelit komunikasi baru perusahaan penyedia jasa telekomunikasi Indonesia, Pasifik Satelit Nusantara, ke orbit.
Peluncuran Falcon 9 Beresheet dari Cape Canveral dijadwalkan pada Kamis, 20:45 EST atau Jumat pukul 08.45 WIB. Proyek ini menelan biaya 100 juta dolar AS atau Rp1,4 miliar.
Dilaporkan AFP, Jumat (22/2/2019), Beresheet membawa "kapsul waktu" yang memuat file-file digital yang berisi Alkitab, gambar anak-anak, lagu-lagu Israel, kenangan dari seorang korban Holocaust yang selamat, serta biru-putih Israel.
"Ini merupakan pesawat ruang angkasa dengan anggaran terendah yang pernah melakukan misi seperti itu. Negara adidaya yang berhasil mendaratkan pesawat ruang angkasa di Bulan telah menghabiskan ratusan juta dolar dengan dana pemerintah," demikian pernyataan Israel Aerospace Industries (IAI).
"Beresheet merupakan pesawat ruang angkasa pertama yang mendarat di Bulan sebagai hasil dari inisiatif pribadi, bukan pemerintah."
Setelah China di awal tahun ini dan kini Israel, India berharap menjadi negara kelima yang mengirim misi ke bilan pada musim semi lewat Chandrayaan-2.
Jepang berencana mengirim pendarat kecil di Bulan, yang disebut SLIM, untuk mempelajari daerah vulkanik pada 2020-2021.
Badan antariksa AS (NASA) juga berencana membangun stasiun ruang angkasa kecil, dijuluki Gateway, di orbit Bulan pada 2026, dan berharap bisa melakukan misi berawak ke Mars pada 20 tahun berikutnya.
Editor: Nathania Riris Michico