Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Pemerintah Dapat Hibah Kapal Patroli dari Jepang, Nilainya Rp205 Miliar
Advertisement . Scroll to see content

Surat Ancaman untuk Kedubes Korsel, Isinya Warga Korea di Jepang Sedang Diburu

Selasa, 03 September 2019 - 16:46:00 WIB
Surat Ancaman untuk Kedubes Korsel, Isinya Warga Korea di Jepang Sedang Diburu
Banner kampanye antiJepang di Korsel (Foto: AFP)
Advertisement . Scroll to see content

TOKYO, iNews.id - Surat ancaman dikirim orang tak dikenal ke Kedutaan Besar Korea Selatan di Jepang. Selain ancaman bahwa pengirim sedang memburu warga Korsel yang berada di Jepang, di paket itu juga terdapat peluru.

Hubungan kedua negara masih tegang dipicu tuntutan Korsel kepada Jepang untuk membayar upah buruh kerja paksa di masa perang 1910-1945. Jepang membalas dengan menghentikan ekspor komponen elektronik berteknologi tinggi.

"Saya sudah mendapat senapan dan saya sedang memburu orang Korea," demikian isi surat yang diterima Kedubes Korsel pada pekan lalu, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (3/9/2019).

Polisi Jepang menyelidiki surat ancaman itu termasuk peluru yang disertakan, namun menolak berkomentar.

Memburuknya hubungan kedua negara juga berpengaruh ke level masyarakat. Sentimen nasionalisme pun bergelora. Di Korsel muncul gerakan-gerakan yang mengampanyekan pemboikotan produk Jepang serta seruan tak berwisata ke Negeri Sakura itu.

Hal serupa terjadi di Jepang. Dampaknya maskapai dari dua pihak mengurangi jadwal penerbangan.

Selain itu tabloid Jepang Shukan Post membuat keruh suasana setelah terbitan edisi 13 September bocor. Shukan Post membuat laporan khusus bertajuk 'We Don't Need Korea', memicu kemarahan warga Korsel dan tuduhan ujaran kebencian.

Pada Senin (2/9/2019) Shukan Post meminta maaf.

"Laporan ini menyebarkan kesalahpahaman dan kurang dipertimbangkan," kata Shukan Post, dalam pernyataan.

Warganet meramaikan Twitter dengan komentar 'We Don't Need Shukan Post', namun sebagian justru membela dengan menyebut orang Korea dan para pendukungnya terlalu sensitif.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut