Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Paus Leo XIV: Anak-Anak Gaza Kelaparan!
Advertisement . Scroll to see content

Semakin Banyak Tentara Israel Tolak Dikirim Perang ke Gaza, Ini Sebabnya

Senin, 26 Mei 2025 - 07:08:00 WIB
Semakin Banyak Tentara Israel Tolak Dikirim Perang ke Gaza, Ini Sebabnya
Semakin banyak tentara Israel yang menolak dikirim ke Gaza karena berbagai alasan (Foto: Anadolu)
Advertisement . Scroll to see content

“Mereka harus mulai mendengarkan kita. Saya berharap orang lain akan mengikuti jejaknya dan melakukan langkah yang sama,” ujar Naomi. 

Protes yang Tumbuh di Dalam Negeri

Demonstrasi di Tel Aviv menjadi cerminan keresahan yang perlahan merambat di masyarakat Israel. Meski sebagian besar warga masih mendukung operasi militer dengan alasan keamanan, kelompok yang mempertanyakan efektivitas dan moralitas perang semakin vokal.

Lembaga-lembaga seperti Breaking the Silence, organisasi yang terdiri dari mantan prajurit Pasukan Pertahanan Israel (IDF), menyatakan dukungan terhadap para penolak tugas. Mereka menyebut keputusan Feiner sebagai "tindakan berani" yang mencerminkan krisis moral di dalam militer.

Antara Loyalitas dan Nurani

Penolakan seperti yang dilakukan Feiner menantang gagasan konvensional tentang patriotisme. Di satu sisi, militer menuntut ketaatan dan loyalitas. Di sisi lain, perang yang tak kunjung berakhir dan merenggut ribuan nyawa warga sipil di Gaza membuat banyak tentara mengalami konflik batin.

“Dia tidak menolak karena pengecut. Dia menolak karena ia merasa tidak bisa lagi berkontribusi pada sesuatu yang ia anggap salah,” kata seorang rekannya yang menolak disebutkan namanya.

Pemerintah Israel belum memberikan komentar resmi soal meningkatnya jumlah penolakan. Namun, analis militer mulai memperingatkan bahwa gelombang penolakan, jika terus tumbuh, dapat merusak disiplin dan moral pasukan cadangan yang menjadi tulang punggung operasi darurat militer.

“Kalau dulu penolakan semacam ini dianggap insiden langka, sekarang ini bisa menjadi gerakan,” ujar seorang analis politik kepada surat kabar Haaretz.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut