Ratusan Paus dan Lumba-Lumba Dibantai untuk Ritual, Pantai Berubah Jadi Lautan Darah
Pekan lalu Sea Shepherd mengklaim sekitar 100 ekor ikan digiring menggunakan perahu ke teluk untuk dibunuh. Warga Faroe bisa berburu rata-rata 600 paus pilot per tahun.
“Grindadráp merupakan peninggalan masa lalu yang biadab, tidak perlu memberi makan siapa pun di kepulauan itu," ujar aktivis Sea Sheperd, Robert Read, dikutip dari Mirror, Senin (12/7/2021).
Disebutkan, 539 ekor paus pilot bersirip panjang, 35 lumba-lumba putih Atlantik, dan 11 paus hidung botol, dibunuh pada 2020 saja.
Sementara itu pejabat pemerintah Faroe mengatakan, populasi paus pilot di Atlantik Utara mencapai 380.000 ekor, sebanyak 100.000 di antaranya hidup di sekitar Faroe.
“Baik daging dan lemak telah lama menjadi bagian dari santapan nasional. Tangkapan berkelanjutan dari spesies yang melimpah ini sebagian besar dibagikan tanpa ditukar uang di antara peserta perburuan dan warga sekitar," bunyi pernyataan.
Dalam satu ritual pada Mei, kepala paus pilot ditusuk ke patung kail raksasa di Kota Hvannasund.
Setiap tahun Sea Shepherd mengirim kru untuk memantau pembantaian tersebut. Setiap itu pula muncul foto-foto menunjukkan laut berubah menjadi merah darah setelah ikan-ikan itu dibacok di perairan dangkal. Hal yang lebih mengenaskan, butuh lebih dari 20 menit bagi setiap ikan untuk mati.
Editor: Anton Suhartono