Perspektif itu ditambah dengan penggunaan kata Apartheid dalam judul Peace Not Apartheid. Para kritikus menyebut penggunaan isilah itu sebagai kesalahan atau keliru, sehingga memicu protes keras dari kalangan pendukung Israel.
Dalam buku itu Carter berbicara tentang pengalamannya dalam menangani konflik Timur Tengah.
Beberapa orang menuduh bahwa Carter menganut bias anti-Israel dalam buku tersebut, sementara yang lain mengkritik karya tersebut karena ceroboh, menghilangkan informasi penting, dan karena tidak tepat dalam beberapa hal. Dalam banyak bagian, buku tersebut sangat kritis terhadap perlakuan Israel terhadap warga Palestina.
Namun Carter membela bukunya serta membantah bahwa respons terhadapnya di dunia nyata sangat positif.
Carter, sosok diplomat ulung yang membuatnya meraih Hadiah Nobel Perdamaian pada 2002, mengungkapkan rasa prihatin atas serangan yang ditujukan kepadanya sejak buku tersebut diterbitkan.