Presiden Palestina Tangguhkan Semua Perjanjian dengan Israel
RAMALLAH, iNews.id - Presiden Palestina Mahmud Abbas memutuskan menangguhkan semua perjanjian dengan Israel, di tengah memburuknya hubungan antara kedua belah pihak. Keputusan itu sebagai respons atas penghancuran rumah-rumah warga Palestina di Tepi Barat oleh buldoser dan bahan peledak pasukan Zionis.
"Kami mengumumkan keputusan kepemimpinan untuk berhenti melanjutkan perjanjian yang ditandatangani dengan pihak Israel," katanya, dalam sebuah pidato, seperti dilaporkan AFP, Jumat (26/7/2019).
Dia mengatakan penangguhan seluruh perjanjian itu mulai berlaku pada Jumat (26/7/2019).
Abbas sebelumnya tidak pernah menyatakan dengan jelas dan pasti soal penghentian kerja sama, meskipun para pejabat Palestina kerap membuat ancaman untuk berhenti menerapkan semua perjanjian dengan Israel.
Israel Bersiap Hancurkan Rumah di Pinggiran Yerusalem, Picu Ketakutan Palestina
Dia mengatakan Palestina akan segera membentuk komite untuk mempelajari bagaimana melaksanakan keputusan itu.
Kedua pemerintah bekerja sama dalam berbagai hal mulai dari air hingga keamanan. Penarikan Palestina dari perjanjian dapat berdampak pada keamanan di Tepi Barat yang diduduki.
Abbas (84) sebelumnya sudah pernah melemparkan ancaman serupa, namun tidak menerapkannya.
Namun hubungan antara pemerintah Abbas, yang berbasis di Tepi Barat, dan Israel kian memburuk dalam beberapa bulan terakhir.
Pada Februari, negara Yahudi itu memutuskan mengurangi sekitar 10 juta dolar per bulan dari pendapatan pajak yang mereka kumpulkan atas nama orang-orang Palestina. Hal itu dilakukan atas respons dari langkah Otoritas Palestina membayar keluarga tahanan atau para napi di penjara-penjara Israel.
Israel menyebut pembayaran itu sebagai bantuan bagi penjahat, sementara orang Palestina melihatnya sebagai dukungan bagi keluarga yang kehilangan pencari nafkah keluarga.
Israel juga pada Senin (22/7/2019) menghancurkan 12 bangunan apartemen Palestina, banyak di antaranya masih dalam pembangunan, di daerah Sur Baher yang berada di wilayah antara Tepi Barat dan Yerusalem.
Israel menyatakan bangunan itu dibangun terlalu dekat dengan tembok penghalang pemisahan yang memotong Tepi Barat.
Namun para pemimpin Palestina, serta para pejabat Uni Eropa dan PBB, mengutuk penghancuran itu.
"(Penghancuran rumah-rumah Palestina) hanya dapat digolongkan sebagai pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang tidak dapat ditoleransi," tandas Abbas.
Editor: Nathania Riris Michico