Populasi Bumi Diprediksi 8,8 Miliar Orang pada 2100, Lebih Rendah dari Proyeksi PBB
PARIS, iNews.id - Populasi di bumi pada tahun 2100 diprediksi berada di angka 8,8 miliar orang, lebih rendah dari proyeksi PBB yang menyatakan penduduk bumi akan mencapai 10,8 miliar di tahun tersebut.
Tim peneliti internasional dalam laporan yang dipublikasi di The Lancet Journal menyebut pada akhir abad ke-21 ini sebanyak 183 dari 195 negara di dunia akan berada di bawah ambang batas tingkat populasi.
Negara-negara maju dan berkembang seperti Jepang, Spanyol, Italia, Thailand, Portugal, Korea Selatan dan Polandia, diprediksi akan kehilangan populasi hingga setengahnya dalam kurun waktu 80 tahun mendatang.
Sementara China yang merupakan negara dengan penduduk terpadat di dunia saat ini, diproyeksi akan memiliki jumlah penduduk sebanyak 730 juta pada 2100. Jumlah tersebut di bawah angka 1,4 miliar orang yang tercatat saat ini.
Sembuh setelah Covid-19 Rusak 90 Persen Paru-Paru, Pilot Inggris Puji Layanan Kesehatan Vietnam
Tren berbeda akan dialami sejumlah negara di Sub-Sahara Afrika. Penelitian menunjukkan penduduk di wilayah itu akan bertambah tiga kali lipat menjadi sekitar tiga miliar orang. Nigeria menjadi negara di Afrika dengan jumlah penduduk terpadat yaitu 800 juta jiwa, sekaligus terpadat kedua di dunia.
Sedangkan, India akan menjadi negara terpadat di dunia dengan jumlah penduduk diprediksi mencapai 1,1 miliar pada 2100.
Waspada Demam Babi Afrika, Karantina Lampung Peketat Jalur Keluar-Masuk Babi
"Prakiraan ini menunjukkan kabar baik bagi lingkungan, dengan lebih sedikit tekanan pada sistem produksi pangan dan emisi karbon yang lebih rendah, serta peluang ekonomi yang signifikan untuk negara-negara di Sub-Sahara Afrika," kata anggota peneliti, Christopher Murray, yang merupakan Direktur Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di University of Washington, dikutip dari AFP, Rabu (15/7/2020).
Christopher mengatakan pada akhir abad ke-21, negara-negara berpanghasilan tinggi akan menghadapi situasi 'piramida populasi terbalik' dimana mereka kekurangan angkatan kerja.
360 Gajah Afrika Mati Misterius di Bostwana, Disebabkan Covid-19?
Solusi terbaik untuk mempertahankan tingkat populasi dan pertumbuhan ekonomi adalah kebijakan imigrasi yang fleksibel bagi tenaga kerja dari dunia ketiga seperti Afrika. Peneliti juga menekankan pentingnya dukungan sosial bagi keluarga yang menginginkan keturunan.
"Namun, dalam menghadapi penurunan populasi ada bahaya yang sangat nyata bahwa beberapa negara mungkin mempertimbangkan kebijakan yang membatasi akses ke layanan kesehatan reproduksi dengan konsekuensi yang berpotensi menghancurkan," lanjutnya.
Editor: Arif Budiwinarto