Politikus Senior AS: Kelangsungan NATO Itu Salah Satu Tragedi Terbesar dalam Sejarah!
Menurut Black, Barat dan Moskow semestinya dapat menandatangani perjanjian untuk menjadikan wilayah antara Jerman dan Rusia sebagai daerah demiliterisasi netral, seperti halnya Austria selama era Perang Dingin dulu.
Sayangnya, yang dilakukan Barat hari ini justru sebaliknya. NATO terus bergerak tanpa henti ke timur, sampai akhirnya wilayah penyangga terakhir, yakni Ukraina juga hendak digarap oleh aliansi tersebut. Pada saat itulah, kata Black, Presiden Barack Obama merestui penggulingan pemerintahan Ukraina yang dianggap pro-Rusia. Presiden Ukraina kala itu, Viktor Yanukovych, dilengeserkan lewat aksi massa yang disebut-sebut dirancang oleh Barat.
“Peristiwa itu pastinya memicu perang, dan kemudian Rusia hanya bertindak defensif (mempertahankan diri) sejak itu. Mereka (Moskow) tidak dapat secara bertanggung jawab membiarkan NATO mengambil alih Ukraina,” katanya.
Dia melihat Rusia mempertaruhkan segalanya demi mencegah Kiev bergabung NATO. Sebab, Moskow khawatir, jika negara tetangganya itu jadi anggota aliansi tersebut, Barat dengan mudah dapat memutuskan kapan saja untuk menempatkan rudal nuklirnya di Ukraina. “(Sehingga Barat) dapat dengan cepat menyerang St Petersburg dan Moskow atau di (wilayah Rusia) mana pun mereka inginkan,” ujar Black.
Politikus senior AS itu menilai NATO kini telah menjelma menjadi organisasi yang sangat kontraproduktif. Aliansi itu telah berubah dari organisasi yang murni defensif menjadi kekuatan ofensif yang agak kejam.
“Mereka (NATO) mendukung invasi tak beralasan ke Libya. Mereka mendukung serangan tak beralasan ke Suriah. NATO mendukung serangan ke Serbia, yang tentu saja juga tidak beralasan,” kata Black.
Editor: Ahmad Islamy Jamil