Pertempuran Pecah di Ibu Kota Sudan, Kelompok Militer Saling Tuduh Mau Kudeta
Bentrokan tersebut menyusul meningkatnya ketegangan antara Tentara Nasional Sudan dan RSF terkait integrasi RSF ke dalam militer. Timbul pula persoalan siapa yang harus mengawasi proses penggabungan tersebut.
Ketidaksepakatan itu telah menunda penandatanganan perjanjian yang didukung secara internasional dengan partai-partai politik tentang transisi menuju demokrasi di Sudan.
Pasukan sipil yang menandatangani versi draf perjanjian itu pada Desember lalu, pada Sabtu ini menyerukan agar para pihak segera menghentikan permusuhan, baik oleh tentara maupun RSF. Jika tidak, Sudan akan tergelincir menuju jurang kehancuran total.
“Ini adalah momen penting dalam sejarah negara kita. Ini adalah perang yang tidak akan dimenangkan oleh siapa pun, dan itu akan menghancurkan negara kita selamanya,” kata pasukan sipil dalam pernyataannya.
RSF menuduh Tentara Nasional Sudan hendak mencoba melakukan kudeta. Sebaliknya, Tentara Nasional Sudan juga menuduh justru RSF-lah yang ingin berbuat makar.