Pertama Kali, Dewan Keamanan PBB Gelar Pertemuan Bahas Ancaman Kecerdasan Buatan
Dia mengakui, AI bisa membantu dalam mengatasi perubahan iklim dan meningkatkan perekonomian. Namun di sisi lain, Cleverly memperingatkan AI juga bisa memicu disinformasi serta membantu oknum pemerintah maupun non-pemerintah mencari senjata.
Duta Besar China untuk PBB Zhang Jun menggambarkan AI sebagai pedang bermata dua. China mendukung langkah koordinasi terpusat PBB dalam menetapkan panduan pemanfaatan AI.
"Apakah itu baik atau buruk, baik atau jahat, bergantung pada bagaimana manusia menggunakan, mengatur, dan bagaimana kita menyeimbangkan pengembangan ilmiah dengan keamanan," kata Zhang.
Wakil Dubes AS untuk PBB, Jeffrey DeLaurentis, mengatakan penting bagi beberapa negara untuk bekerja sama dalam pemanfaatan AI serta teknologi baru lainnya. Tujuannya mengatasi risiko dampak terhadap pelanggaran HAM yang bisa merusak perdamaian dan keamanan.
"Tidak ada negara anggota yang boleh menggunakan AI untuk menyensor, membatasi, menekan, atau melemahkan orang lain," ujarnya, dalam pemaparan.
Sementara itu Wakil Dubes Rusia untuk PBB Dmitry Polyanskiy mempertanyakan, mengapa Dewan Keamanan PBB yang bertugas menjaga perdamaian dan keamanan dunia, membahas AI. Menurut dia, diskusi ini membutuhkan waktu khusus dan bisa dilakukan di forum lain, bukan lembaga seperti dewan keamanan.
“Yang diperlukan adalah diskusi profesional, ilmiah, berbasis keahlian yang bisa memakan waktu beberapa tahun dan diskusi ini sudah berlangsung di platform khusus,” kata Polyanskiy.
Editor: Anton Suhartono