Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Pemimpin Iran Khamenei Sebut Demo Rusuh Upaya Kudeta
Advertisement . Scroll to see content

Pasukan Keamanan Myanmar Kembali Bertindak Brutal, 9 Demonstran Tewas Ditembak

Rabu, 03 Maret 2021 - 16:16:00 WIB
Pasukan Keamanan Myanmar Kembali Bertindak Brutal, 9 Demonstran Tewas Ditembak
Setidaknya 9 demonstran anti-kudeta Myanmar tewas dalam bentrokan terbaru di beberapa kota pada Rabu (3/3) (Foto: Reuters)
Advertisement . Scroll to see content

YANGON, iNews.id - Demonstrasi menentang kudeta militer di Myanmar, Rabu (3/3/2021), kembali memakan korban jiwa. Setidaknya sembilan orang tewas ditembak dalam bentrokan dengan aparat keamanan di beberapa kota.

Seorang saksi mata mengatakan kepada media setempat, dua orang tewas dalam bentrokan di Kota Mandalay. Selain itu satu orang tewas akibat terkena tembakan polisi di Kota Yangon. 

Media lokal Monywa Gazette juga melaporkan, lima orang tewas ditembak di pusat kota oleh pasukan keamanan.

Kemudian, seorang aktivis mahasiswa, Moe Myint Hein (25) mengungkap, satu orang tewas ditembak di pusat Kota Myingyan. 

"Mereka menembaki kami dengan peluru tajam. Satu orang tewas, masih muda, seorang remaja laki-laki ditembak di kepala," kata Moe, dikutip dari Reuters.

Korban diperkirakan masih terus berjatuhan mengingat demonstrasi di berbagai kota berlangsung rusuh.

Sejauh ini juru bicara dewan militer belum memberikan komentar terkait jatuhnya korban tewas terbaru.

Dengan bertambahnya korban tewas hari ini, total nyawa yang terenggut sejak demonstrasi penggulingan Aung San Suu Kyi pada 1 Februari menjadi 30 orang. Tiga orang tewas dalam bentrokan sebelumnya, disusul 18 orang pada Sabtu pekan lalu.

Dalam unjuk rasa terbaru ini pasukan keamanan Myanmar menahan sekitar 300 demonstran saat membubarkan unjuk rasa di Kota Yangon.

Video yang diunggah di media sosial menunjukkan antrean panjang demonstran dalam kondisi tangan di atas kepala masuk ke truk tentara. 

Unjuk rasa juga pecah di Negara Bagian Chin, Kachin, Shan, serta Sagaing.

"Kami ingin menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun di negara ini yang menginginkan kediktatoran," kata Salai Lian, seorang aktivis di Chin.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut