Para Pemimpin 6 Partai Oposisi Turki Bersatu, Hendak Lengserkan Erdogan?
ANKARA, iNews.id – Para pemimpin enam partai oposisi di Turki bertemu di Ankara pada Sabtu (12/2/2022). Kesempatan tersebut mereka manfaatkan untuk menyusun strategi tentang masa depan sistem pemerintahan negara itu.
Pertemuan kemarin dianggap sebagai bagian dari bentuk perlawanan nyata mereka terhadap sistem ketatanegaraan yang diterapkan Presiden Recep Tayyip Erdogan.
Dalam sebuah pernyataan setelah jamuan makan malam, para pemimpin partai mengatakan, Turki sedang mengalami krisis politik dan ekonomi terdalam dalam sejarahnya dan menyalahkan sistem presidensial eksekutif yang diberlakukan di era Erdogan berkuasa. Mereka mengatakan, tujuan bersama mereka adalah untuk mengubah pemerintahan Turki menjadi “sistem parlementer yang diperkuat.”
The Associated Press (AP) melansir, para pemimpin oposisi itu memang tidak menyebut nama Erdogan secara eksplisit dalam pernyataannya. Akan tetapi, tujuan jelas mereka adalah menemukan cara untuk bekerja sama menggulingkan pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP)—yang sudah lama menjadi penguasa di negeri bekas Kesultanan Ottoman itu.
Presiden Israel Isaac Herzog Bakal ke Turki Bertemu Erdogan, Ada Apa?
Para pemimpin oposisi yang hadir dalam jamuan makan malam itu adalah pemimpin Partai Rakyat Republik, Kemal Kilicdaroglu; politikus Partai Baik Nasionalis, Meral Aksener,dan; pemimpin Partai Kebahagiaan, Temel Karamollaoglu. Berikutnya, ada politikus Partai Demokrat, Gultekin Uysal; pemimipin Partai Demokrasi dan Kemajuan, Ali Babacan; dan pemimpin Partai Masa Depan, Ahmet Davutoglu.
Mereka sebelumnya telah melakukan pertemuan bilateral. Akan tetapi, pertemuan pada Sabtu kemarin adalah yang pertama bagi mereka. Mereka diperkirakan bakal merilis perincian kesepakatan politik mereka pada 28 Februari.
Erdogan: Rusia Tak Bijaksana jika Serang Ukraina, Turki Siap Bertindak
Davutoglu dan Babacan termasuk pendiri AKP yang mengantarkan Erdogan berkuasa. Namun, mereka kemudian memilih memisahkan diri dan membentuk partai sendiri, sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan Erdogan.
Presiden Erdogan Copot Menkeu Turki akibat Anjloknya Nilai Tukar Lira
Setelah lebih dari 11 tahun sebagai perdana menteri Turki, Erdogan terpilih sebagai presiden pada 2014. Pada saat itu, posisi presiden masih bersifat seremonial, karena hanya sebatas kepala negara.
Akan tetapi, pada 2017, para pemilih Turki menyetujui sistem presidensial eksekutif, yang sangat memperluas kekuasaan Erdogan. Pada pemilu yang digelar tahun berikutnya, Erdogan terpilih kembali sebagai presiden untuk kedua kalinya.
Erdogan Siap Mediasi Konflik Rusia dan Ukraina: Insya Allah Kami Akan Ambil Bagian
Pemilihan umum parlemen dan presiden berikutnya di Turki dijadwalkan pada Juni 2023.
Editor: Ahmad Islamy Jamil