YANGON, iNews.id – Setiap hari selama tiga bulan terakhir, rata-rata enam atau tujuh keluarga di Myanmar memasang pengumuman atau pemberitahuan di koran-koran milik negara. Isinya cukup membuat terhenyak, yaitu mereka telah memutuskan hubungan dengan putra, putri, keponakan, atau cucu yang secara terbuka menentang junta militer.
Pemberitahuan semacam itu mulai bermunculan di surat kabar Myanmar pada November lalu, setelah Tentara Myanmar mengancam akan mengambil alih properti siapa saja yang menentang kekuasaan junta. Tak hanya itu, militer di sana juga mengancam bakal menangkap orang-orang yang memberikan perlindungan kepada para pengunjuk rasa yang memprotes kudeta sejak setahun lalu.
Trump Janji Rebut Uranium Iran Meski Teheran Tak Sudi Menyerahkannya
Ancaman Tentara Myanmar itu lalu disusul dengan sejumlah penggerebekan di rumah-rumah penduduk yang dituduh berpihak kepada kelompok penentang junta.
Lin Lin Bo Bo, mantan penjual mobil yang bergabung dengan kelompok bersenjata yang menentang junta militer, adalah salah satu dari mereka yang kini tak lagi diakui oleh orang tuanya.
Australia Desak Militer Myanmar Bebaskan Ekonom Penasihat Aung San Suu Kyi
“Kami menyatakan bahwa kami tidak mengakui Lin Lin Bo Bo karena dia tidak pernah mendengarkan kehendak orang tuanya,” demikian bunyi pemberitahuan yang disampaikan orang tuanya, San Win dan Tin Tin Soe, di surat kabar pelat merah Myanmar, The Mirror, pada November lalu.