Kisah kehilangan kedua lengan tersebut terjadi pada 12 Januari 1998. Saat itu Gretarsson, yang merupakan seorang ahli listrik, sedang mengerjakan saluran listrik bertegangan tinggi. Tiba-tiba terjadi kecelakaan kerja, lonjakan 11.000 volt membakar tangannya dan melemparkannya ke tanah penuh salju.
Mukjizat, Jantung Transplantasi Masih Berdetak dalam Kecelakaan Helikopter Medis
Dia juga menderita beberapa patah tulang dan luka dalam, hingga mengalami koma selama tiga bulan, dan ahli bedah terpaksa mengamputasi kedua lengannya. Tak cukup sampai di situ, Gretarsson juga menjalani beberapa operasi lagi setelahnya, termasuk transplantasi hati.
Lalu, seorang pelopor transplantasi tangan, Jean-Michel Dubernard, yang tinggal di Lyon mengunjungi Ibu Kota Reykjavik untuk sebuah konferensi. Di sana dan pada waktu itulah Gretarsson bertanya kepadanya, apakah mungkin untuk mengganti anggota tubuhnya yang hilang.
“Operasi itu adalah impian terbesarnya,” kata istri Gretarsson, Sylwia. Perempuan itu mengatakan pada konferensi pers Jumat kemarin bahwa dia sendiri tidak pernah merasa operasi itu benar-benar diperlukan. Sebab, selama ini suaminya tidak kehilangan momen apa pun bersamanya.
Butuh waktu bertahun-tahun untuk menemukan donor yang sesuai. Operasi transplantasi itu sendiri melibatkan sekitar 50 staf medis. Ada sekitar 4 tim bedah dilibatkan untuk meminimalkan waktu dari proses transisi antara donor dan penerima.
Dokter mengatakan, kemungkinan lengan kanan akan berfungsi lebih baik daripada lengan kiri. Serta dibutuhkan pembentukan kembali kedua bahu secara menyeluruh. Tidak ada komplikasi serius yang terdeteksi sembilan hari pasca operasi, kata para dokter.
Pasien memang masih jauh dari keoptimalan menggerakkan kedua lengannya dengan cepat. Namun dia tampak sangat senang dengan hasilnya, seperti yang diperlihatkan dalam rekaman video pendek di ranjang rumah sakit yang ditayangkan saat konferensi pers.
Editor: Ahmad Islamy Jamil