Nilai Mata Uang Hancur 800%: Sudan Masuki Jurang Hiperinflasi Tanpa Kendali
Sistem Perbankan Runtuh, Ekonomi Tak Lagi Berfungsi
Hiperinflasi ini diperparah oleh hilangnya sistem perbankan Sudan. Ketika pertempuran mencapai Khartum pada 2023, Bank Sentral Sudan dibakar dan kemudian diduduki pemberontak selama hampir dua tahun sebelum dibebaskan kembali. Jaringan antarbank SWIFT terputus, bank-bank komersial ditutup atau dijarah hingga brankasnya kosong.
Akibatnya, uang tak lagi beredar, tabungan warga tidak bisa diakses, transfer dana tidak dapat dilakukan, bank tidak mampu memasok uang tunai ke masyarakat. Banyak warga bahkan mengaku tidak melihat uang tunai selama berbulan-bulan.
Ketika Uang Tidak Lagi Bernilai: Barter Menggantikan Segalanya
Dengan hancurnya nilai mata uang dan tidak berfungsinya bank, warga beralih ke sistem barter. Barang-barang seperti cangkul, kursi, jagung, tepung, atau gula menjadi alat tukar baru.
“Saya tidak memegang uang kertas selama lebih dari 9 bulan,” kata Ali, seorang PNS di Kota Dilling yang dikepung oleh RSF, seperti dikutip dari Al Jazeera.
Dia pernah menukar cangkul dan kursi dengan tiga karung sorgum, sesuatu yang menggambarkan betapa lumpuhnya nilai uang di Sudan. Bahkan jasa transportasi dibayar dengan barang.