Netanyahu Disebut Kirim Tentara Israel ke Gaza untuk Jadi Bulan-bulanan Hamas
Kritik dari Keluarga Tentara dan Publik
Serangan Hamas yang menghancurkan kendaraan lapis baja berisi pasukan Israel pekan ini menjadi pemicu utama kemarahan publik. Serangan yang dilakukan Brigade Izzuddin Al Qassam, sayap militer Hamas, menewaskan tujuh tentara Israel, termasuk seorang perwira. Keluarga korban menuntut pertanggungjawaban langsung dari pemerintah.
Kritik tidak hanya datang dari oposisi dan keluarga korban, tapi juga dari sebagian warga Israel yang menuduh Netanyahu menggunakan perang sebagai alat politik untuk mempertahankan kekuasaan, bukannya mengejar solusi damai atau pembebasan sandera.
Sandera dan Gagalnya Strategi Militer
Lapid menegaskan bahwa prioritas utama saat ini seharusnya adalah pembebasan sekitar 50 sandera Israel yang masih ditahan Hamas, 20 di antaranya diyakini masih hidup. Ia juga menyarankan perubahan pendekatan, termasuk memberi peran kepada Mesir untuk mengelola Gaza serta mengepung Hamas secara ekonomi, bukan dengan menguras tenaga militer secara langsung.
“Kita tak bisa mengalahkan Hamas hanya dengan mengerahkan tentara ke Gaza. Ini butuh strategi, organisasi, dan waktu yang tepat,” ujar Lapid.
Sebelumnya, proposal Lapid agar Mesir mengelola Gaza selama 15 tahun ditolak oleh Kairo pada Februari lalu. Namun, tekanan terhadap Netanyahu kembali mencuat seiring meningkatnya jumlah korban jiwa dari pihak militer dan stagnasi dalam negosiasi pembebasan sandera.