Mengejutkan! 92% Warga Israel Yakin Negaranya Kalah Perang Lawan Iran
TEL AVIV, iNews.id - Hasil survei terbaru di Israel mengungkap temuan mengejutkan. Sebanyak 92,1 persen warga Israel meyakini Iran sebagai pihak yang memenangkan perang yang berlangsung antara kedua negara beberapa bulan terakhir.
Survei melibatkan 3.644 responden ini dilakukan oleh Universitas Ibrani Yerusalem pada 17-20 Juni dan dirilis surat kabar The Times of Israel pada Minggu (21/6/2026).
Tak hanya itu, mayoritas warga Israel menilai negaranya gagal mencapai tujuan perang. Sebanyak 87,8 persen responden menyatakan Israel gagal memenuhi target yang ingin dicapai atau hanya berhasil mewujudkan sebagian kecil dari tujuannya dalam konflik melawan Iran.
Pandangan negatif masyarakat juga terlihat terhadap klaim Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengenai hasil perang. Sebanyak 72,5 persen responden mengaku tidak percaya pada pernyataan Netanyahu yang menyebut Israel memperoleh keuntungan signifikan dan berhasil menghilangkan ancaman eksistensial dari Iran.
Hasil survei juga menunjukkan penilaian buruk terhadap kepemimpinan Netanyahu selama perang. Sebanyak 56,4 persen responden menyebut kinerjanya sebagai "gagal" atau "buruk", sementara hanya 26,5 persen yang memberikan penilaian positif.
Selain itu, 82,9 persen responden menilai perang melawan Iran justru melemahkan keamanan Israel dalam jangka panjang. Temuan ini menunjukkan tingkat pesimisme yang tinggi di kalangan publik terkait dampak konflik tersebut terhadap masa depan negara mereka.
Perang Iran-Israel pecah setelah Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari. Konflik berlangsung hingga 8 April dan diakhiri dengan pengumuman gencatan senjata oleh Presiden Trump. Meski demikian, sejumlah insiden kecil masih terjadi setelahnya, terutama di kawasan Selat Hormuz.
Pada 17 Juni, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang dikenal sebagai MoU Islamabad. Kesepakatan tersebut menandai berakhirnya perang, meskipun berbagai pihak menilai perdamaian yang tercipta masih rapuh.
Editor: Anton Suhartono