Mantan Menhan Israel Sebut Pemerintahan Netanyahu Tak Bisa Pengaruhi Trump
TEL AVIV, iNews.id - Mantan Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman menilai pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak memiliki kemampuan besar untuk memengaruhi keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, khususnya terkait potensi serangan militer terhadap Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Lieberman di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, yang berisiko menyeret Israel ke dalam konflik terbuka.
Menurut Lieberman, keputusan perang sepenuhnya berada di tangan Trump, sementara Israel hanya bisa bersikap waspada dan bersiap menghadapi dampaknya.
“Kita berada pada tahap di mana negara Israel harus tenang dan menunggu,” kata Lieberman, kepada stasiun radio 103 FM, seperti dilaporkan Anadolu.
Israel Dukung Serang Iran jika Negosiasi Nuklir dengan AS Buntu
Lieberman menegaskan, jika militer AS benar-benar menyerang Iran, Israel hampir pasti akan menjadi target pembalasan Teheran.
Oleh karena itu, dia mendesak pemerintahan Netanyahu segera menyiapkan perlindungan bagi jutaan warga Israel yang belum memiliki tempat perlindungan memadai.
Terungkap! Trump Belum Mau Serang Iran, Israel yang Ngotot
“Kita harus bersiap sekarang dan menyiapkan tempat-tempat aman bagi jutaan warga yang tidak memiliki tempat perlindungan yang aman,” ujarnya.
Namun di sisi lain, Lieberman secara terbuka mengakui keterbatasan pengaruh politik Israel terhadap Washington. Dia menyebut pemerintahan Israel saat ini tak memiliki daya tawar kuat untuk mengubah atau menahan keputusan Trump terkait Iran.
Israel sendiri terus memantau dengan cermat penambahan kekuatan militer AS di Timur Tengah sebagaimana diperintahkan Trump. Selain itu, Tel Aviv juga menunggu hasil rencana negosiasi AS–Iran yang dijadwalkan dimulai pada Jumat (6/2/2026).
Kekhawatiran Lieberman juga dipicu pengalaman perang 12 hari pada Juni 2025, ketika Iran melancarkan serangan rudal besar-besaran yang menghantam berbagai wilayah Israel.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan serius pada fasilitas militer dan intelijen, serta menimbulkan kepanikan luas di kalangan warga.
Editor: Anton Suhartono