Latihan Perang, Iran Bombardir Fasilitas Nuklir Tiruan Israel dengan Rudal dan Drone
Israel berulang kali mengancam akan menyerang Iran dalam beberapa bulan terakhir di tengah kebuntuan perjanjian nuklir dengan Amerika Serikat (AS), JCPOA. Bahkan Israel dan AS mempertimbangkan akan menggelar latihan perang bersama untuk menyerang fasilitas nuklir Iran. Tindakan semacam itu bisa saja dilakukan jika perjanjian JCPOA benar-benar putus.
Para pejabat Iran menanggapi ancaman itu dengan mengatakan, Israel harus menyiapkan dana puluhan ribu miliar dolar AS untuk memperbaiki dampak kerusakan akibat dari pembalasan mengejutkan atas serangan apa pun.
Video tersebut bukan kali pertama dirilis Iran tahun ini.
Sementara itu media Israel menyatakan dampak parah jika fasilitas nuklir Dimona benar-benar diserang Iran. Pada April lalu, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menggelar penyelidikan mengapa sistem pertahanan udaranya gagal mencegat rudal antipesawat S-200 Suriah yang masuk ke wilayah udara Israel lalu meledak di udara 40 km dari fasilitas nuklir.
Rudal itu diluncurkan saaat pasukan pertahanan udara Suriah mengusir serangan udara Israel di dekat Damaskus.
Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz mengungkapkan keterkejutannya atas serangan rudal tersebut, dengan mengatakan dirinya melihat hasil yang berbeda.
Israel memulai pembangunan fasilitas nuklir Dimona pada akhir 1950-an diduga kuat atas bantuan Prancis. Proyek tersebut berjalan di luar lingkup regulasi dan inspeksi Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
Menurut intelijen AS, produksi senjata nuklir di fasilitas itu dimulai pada pertengahan 1960-an dan negara itu sudah membuat hingga 13 senjata nuklir saat Perang 6 Hari pada Juni 1967.
Editor: Anton Suhartono