Korsel Tuduh Jepang Berulang Kali Lakukan Provokasi Militer di Udara
SEOUL, iNews.id - Korea Selatan (Korsel) menuduh Jepang berulang kali melakukan provokasi dengan terbang rendah di atas kapal Angkatan Laut negaranya. Pemerintah Jepang membantah tuduhan dan kedua pihak sudah lebih dari sebulan saling tuduh secara terbuka.
Shim Jae Ok, profesor Departemen Penerbangan Universitas Sehan dan bekas penerbang Angkatan Laut mengatakan kepada VOA, insiden semacam itu memang terjadi dari waktu ke waktu dan sebagai sekutu, kedua pihak biasanya menyelesaikanya lewat pembicaraan tingkat kerja.
"Tetapi kali ini para politisi Jepang termasuk Perdana Menteri Shinzo Abe dan menteri pertahanan menyebutnya kepada publik," kata Jae Ok, seperti dilaporkan VOA, Selasa (29/1/2019).
Grant Newsham, peneliti senior Japan Forum for Strategic Studies di Tokyo, menduga alasan di balik Abe dan Pemerintah Jepang membawa pertikaian terbaru ini kepada publik adalah karena pimpinan senior pemerintahan sudah merasa cukup kesal dengan Korsel.
Hal ini diperparah dengan adanya keputusan terbaru pengadilan untuk memerintahkan perusahaan-perusahaan Jepang membayar ganti rugi kepada buruh kerja paksa dari zaman Perang Dunia II.
Dalam hal ini sering dilupakan bahwa militer kedua negara mempunyai hubungan kerja yang cukup baik.
"Masalah sebenarnya ada di tingkat atas, bukan di tingkat militer ke militer," kata Newsham.
Pada Desember lalu, kapal Angkatan Laut Korsel menanggapi sinyal bahaya dari satu kapal nelayan Korea Utara yang hanyut terapung masuk ke perairan internasional antara Korsel dan Jepang.
Jepang menyatakan pesawat jenis P-1 Pasukan Bela Diri Maritimnya dibidik radar tembak dari kapal perang Korsel, Gwanggaeto, dan merasa terancam. Sebaliknya, Korsel menjelaskan pihaknya merasa terancam oleh jalur dan jarak terbang rendah pesawat Jepang itu.
Sejak insiden awal itu, Korsel Selatan melaporkan ada tiga insiden lagi di mana pesawat Jepang mendekati kapalnya pada ketinggian 60 sampai 70 meter dan bukan standar biasa yakni 150 meter.
Korsel menyebut terbang rendah itu sebagai tindakan provokatif.
Editor: Nathania Riris Michico