Dalam sebuah surat terbuka kepada media Taiwan, United Daily News, Hsu mengatakan bahwa di bawah suasana politik saat ini, opini publik tertentu menempatkan rasa bersalah pada perusahaan-perusahaan Taiwan yang berinvestasi di China. Padahal, bagi dia pandangan semacam itu sebenarnya tidak perlu.
Pemerintah Australia Dinilai Bermain Api dengan Libatkan Diri dalam Konflik Taiwan
Hsu mengklaim, banyak jajak pendapat dalam beberapa tahun terakhir yang menunjukkan sebagian besar dukungan rakyat Taiwan untuk mempertahankan status quo di Selat Taiwan.
“Seperti kebanyakan orang Taiwan, saya berharap hubungan lintas selat mempertahankan status quo. Saya selalu menentang kemerdekaan Taiwan,” katanya, seperti dikutip kembali Reuters, Selasa (30/11/2021).
Kapal Perang AS Berpeluru Kendali Kembali Lintasi Selat Taiwan, Bagaimana Reaksi China?
Hsu berpendapat, perusahaan-perusahaan Taiwan tidak dapat menyelesaikan kesulitan politik karena itu sejatinya adalah tugas para politikus. Karenanya, para pelaku bisnis selalu mengharapkan perdamaian serta “pertukaran dan interaksi yang normal”.
Beijing selalu mengklaim Taiwan sebagai bagian dari China. Negeri tirai bambu pun akhir-akhir ini semakin meningkatkan tekanan terhadap pulau itu. Namun, Presiden Taiwan Tsai Ing Wen mengatakan, negaranya tidak akan tunduk pada tekanan. Dia pun menegaskan akan membela demokrasi dan kebebasan Taiwan.
Awal bulan ini, China mengeluarkan ancaman bahwa siapa pun yang mendukung kemerdekaan resmi Taiwan, termasuk perusahaan-perusahaan, akan bertanggung jawab secara pidana.
Editor: Ahmad Islamy Jamil