Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Nyaris 12 Persen dalam Sepekan
Lonjakan harga minyak dunia terjadi setelah AS kembali melancarkan operasi militer berskala besar terhadap Iran. Untuk pertama kalinya sejak nota kesepahaman yang menghentikan sementara permusuhan bulan lalu, Washington melancarkan dua gelombang serangan udara besar pada Rabu yang sebagian besar menyasar wilayah dekat pesisir selatan Iran. Serangan tersebut berlanjut pada Kamis.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan pasukannya kembali melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran untuk malam keenam berturut-turut. Operasi tersebut diklaim bertujuan semakin melemahkan kemampuan militer Iran.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone yang menyasar sejumlah pangkalan militer AS di negara-negara tetangga, termasuk rentetan serangan ke pangkalan udara di Yordania yang baru saja diperluas.
Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol mengatakan, keamanan pasokan minyak masih menjadi isu yang sangat penting.
"Keamanan minyak masih menjadi isu yang sangat krusial. Kita harus khawatir, dan saya khawatir, jika situasi tidak membaik dalam beberapa pekan ke depan," ujar Birol.
Di sisi lain, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak Brent dapat melampaui 110 dolar AS per barel pada kuartal IV 2026 apabila pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk terus mengalami keterlambatan.
Meski demikian, bank investasi tersebut memproyeksikan harga minyak kembali turun ke kisaran 60 dolar AS per barel pada akhir tahun apabila ketegangan geopolitik mereda dan produksi meningkat lebih cepat dari perkiraan.
Editor: Aditya Pratama