Kartun itu juga memicu kemarahan Juru Bicara Kepresidenan Turki, Ibrahim Kalim. Dia menyebut Charlie Hebdo sebagai orang barbar modern. "Tercekik dalam kebencian dan dendammu," katanya dilansir dari Aljazeera, Kamis (9/2/2023).
Kiper Legendaris Turki Ini Tampung Korban Gempa di Rumahnya
Salah seorang netizen perempuan bernama Sara Assaf mengatakan dirinya menarik dukungan untuk majalah Charlie Hebdo setelah melihat kartun gempa bumi Turki-Suriah itu.
"Je ne suis plus Charlie" (Saya bukan lagi Charlie), tulisnya. Ini mengacu pada slogan “Je suis Charlie” (Saya Charlie) yang diadopsi oleh pendukung Charli Hebdo setelah kantor mereka diserang pada 7 Januari 2015.
Presiden dan Wapres Taiwan Sumbangkan Gaji Sebulan Bantu Korban Gempa Turki
Dalam serangan itu, dua bersaudara yang mengaku berafiliasi dengan Al-Qaeda menembaki markas Charlie Hebdo di Paris. Serangan yang disebut sebagai pembalasan atas penerbitan kartun yag menggambarkan Nabi Muhammad itu mengakibatkan 12 orang tewas. Banyak pihak yang menyampaikan solidaritas dengan Prancis dan menyebut karya itu sebagai bentuk kebebasan berbicara.
"Kami bersamamu selama rasa sakitmu. Apa yang kita alami sekarang adalah bencana bagi umat manusia!" kata seorang pengguna.