Kisah Perempuan Hebat di Gaza, Lahirkan Bayi Kembar 4 saat Perang Sempat Jalan Kaki 5 Km
"Ketika meninggalkan rumah, saya hanya membawa beberapa pakaian musim panas untuk anak-anak. Saya kira perang akan berlangsung 1 atau 2 minggu dan setelah itu kami akan kembali ke rumah,” ujarnya.
Seperti para ibu lainnya, Masry berharap bisa menjalankan tradisi dan merayakan kelahiran bayi-bayinya, termasuk memandikan dengan air mawar.
Namun jangankan memandikan, mendapat air bersih saja sulit.
"Kami bahkan belum bisa memandikan mereka," katanya.
Dia menambahkan jatah popok di pengungsian juga dibatasi karena kondisi yang tak memungkinkan.
"Biasanya saya mengganti popok bayi setiap 2 jam. Tapi situasinya sulit dan saya harus berhemat,” katanya, seraya menambahkan bayi yang baru lahir hanya mendapat jatah popok di pagi dan malam hari.
Sementara sang suami, Ammar (33), merasa terpukul karena tidak bisa menafkahi keluarganya.