Kisah Pata Seca, Budak Brasil Punya 249 Anak karena Disuruh Majikan Berhubungan dengan Banyak Wanita (II-Habis)
Ada beragam spekulasi mengenai asal-usul julukan itu. Beberapa orang mengatakan, dia dipanggil seperti itu karena bisa berjalan tanpa alas kaki di tanah yang panas dan tidak merasakan sakit. Ada juga yang bilang dia memiliki kondisi kulit yang membuat kakinya sangat kering.
Sementara “teori” yang lebih menarik menyebutkan, dia mendapat julukan itu lantaran ke mana pun dia pergi, dia tidak meninggalkan jejak, sehingga menyulitkan para penculiknya untuk melacaknya.
Saat Pata Seca ditangkap, dia dibawa ke Vila Sorocaba dan dijual ke Visconde da Cunha Bueno, seorang pria kulit putih pemilik perkebunan yang menghasilkan kopi dan menjalani kehidupan yang relatif mewah. Pada saat itu, ada takhayul yang populer bahwa pria jangkung dan kuat dengan tulang kering kurus dapat menghasilkan lebih banyak bayi laki-laki. Sementara kebutuhan budak pada waktu itu sangat tinggi untuk kerja paksa. Akhirnya jadilah Pata Seca menjalani status sebagai budak pembibitan, atau dalam istilah yang lebih kasarnya “peternak budak”.
Saat dia diperbudak, Pata Seca tidak punya pilihan selain melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan wanita budak yang tak terhitung jumlahnya. Dia harus menghasilkan lebih banyak anak yang juga akan diperbudak oleh bangsa kulit putih. Anak-anak ini juga dapat diperjualbelikan sebagai komoditas di pasar budak.
Anak-anak budak yang lahir dalam hubungan semacam ini sering kali berada di bawah pengawasan tuan mereka. Wanita dan pria kulit putih sering mengambil anak-anak dari orang tua mereka dan membawa mereka ke rumah besar sang majikan.