Ketika Trump Bela Presiden Suriah Ahmad Al Sharaa saat Bicara dengan Netanyahu
Pejabat AS yang mengetahui percakapan itu menyebut, Netanyahu sempat mengubah nada bicara saat mendengar arahan tersebut, indikasi bahwa permintaan Trump tidak sepenuhnya sejalan dengan posisi Israel.
Trump sebelumnya juga meminta Israel untuk membangun dialog yang kokoh dan jujur dengan Damaskus sekaligus menghindari tindakan yang dapat menghalangi “masa depan Suriah yang sejahtera”.
Isyarat Perubahan Sikap AS di Timur Tengah?
Pernyataan Trump dianggap banyak analis sebagai sinyal perubahan kebijakan Washington. Jika selama ini AS cenderung memberi ruang luas bagi operasi Israel di Suriah, kini Trump justru terlihat membela stabilitas pemerintahan Al Sharaa, atau setidaknya menolak aksi Israel yang dianggap berisiko memperluas konflik.
Dengan meminta Israel “bersantai”, Trump tampak ingin menghindari eskalasi yang dapat membuka front baru di Timur Tengah, terutama saat Gaza masih berada dalam ketegangan akibat pelanggaran gencatan senjata.
Netanyahu di Persimpangan
Bagi Netanyahu, pesan Trump ini menempatkannya pada dilema diplomatik. Di satu sisi, Israel selama bertahun-tahun melihat Suriah sebagai ancaman strategis akibat kehadiran Iran. Di sisi lain, Trump, mitra internasional paling penting Israel, justru menegur dan mengingatkan agar Israel tidak bertindak gegabah.
Permintaan Trump untuk meredakan tekanan terhadap Suriah menunjukkan bahwa Washington menginginkan ketenangan di kawasan, sementara Netanyahu selama ini bersandar pada strategi agresif untuk menekan musuh-musuh regionalnya.
Di tengah konflik Gaza dan ketegangan regional, langkah Trump ini menjadi sinyal bahwa Washington mungkin sedang merumuskan ulang strategi geopolitiknya di Timur Tengah, sementara Israel harus siap menyesuaikan diri.
Editor: Anton Suhartono