Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr Lolos dari Pemakzulan
Advertisement . Scroll to see content

Kapal Dinaiki Panglima Angkatan Bersenjata Filipina Diserang Meriam Air oleh Armada China

Senin, 11 Desember 2023 - 14:22:00 WIB
Kapal Dinaiki Panglima Angkatan Bersenjata Filipina Diserang Meriam Air oleh Armada China
Filipina memprotes keras China setelah dua kapal logistiknya diserang meriam air oleh kapal-kapal milisi dan Penjaga Pantai (Foto: Penjaga Pantai Filipina)
Advertisement . Scroll to see content

MANILA, iNews.id - Filipina mengajukan protes keras terhadap China setelah dua kapal logistiknya diserang menggunakan water cannon atau meriam air oleh kapal-kapal milisi dan Penjaga Pantai. Peristiwa itu berlangsung pada akhir pekan lalu di perairan sengketa kedua negara di Laut China Selatan.

Kapal-kapal logistik tersebut hendak mengantar kebutuhan kepada tentara Filipina yang bertugas menjaga wilayah perairan terluar. Akibat serangan meriam air, salah satu kapal mengalami kerusakan parah pada mesin. Kapal logistik lainnya juga ditabrak dengan sengaja.

Parahnya lagi, salah satu kapal yang diserang dengan meriam air dan ditabrak dinaiki oleh Panglima Angkatan Bersenjata Filipina Romeo Brawner.

Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional Filipina Jonathan Malaya mengatakan, aksi armada China terhadap kapal-kapalnya sebagai eskalasi serius.

“Ini adalah eskalasi serius yang dilakukan para agen Republik Rakyat China,” kata Malaya, dikutip dari Reuters, Senin (11/12/2023).

Sementara itu Brawner mengatakan kepada stasiun radio Filipina DZBB, dia tidak mengalami luka akibat serangan meriam air tersebut. Selain itu Brawner juga yakin kapal-kapal China tidak mengetahui bahwa di dalam kapal itu ada dirinya.

Filipina mengajukan protes diplomatik dan memanggil Duta Besar China atas tindakan agresif di Laut China Selatan. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Filipina menyebut tindakan kapal milisi dan Penjaga Pantai China itu merupakan ancaman terhadap perdamaian, ketertiban, dan keamanan.

Serangan meriam air oleh kapal-kapal China terhadap armada logistik Filipina yang mengirim pasokan kebutuhan untuk pasukan di Laut China Selatan bukan baru kali ini terjadi.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr juga mengeluhkan perilaku agresif China. Ini yang membuat Marcos Jr terus merekatkan hubungan dengan Amerika Serikat serta sekutu lainnya. Bahkan Filipina melakukan patroli bersama dengan AS dan Australia.

China mengklaim sebagian besar wilayah perairan Laut China Selatan melalui sembilan garis putus-putus. Wilayah yang iklaim China itu masuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) negara-negara Asia Tenggara seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Indonesia.

Pengadilan Arbitrase Internasional pada 2016 menolak klaim garis pada peta China karena tidak memiliki dasar hukum, namun ditolak Beijing.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut