Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Video Monyet Berkepala Obama di Akun Medsos Trump Ulah Staf, Gedung Putih: Sudah Dihapus!
Advertisement . Scroll to see content

Kaleidoskop 2024: Pilpres AS yang Penuh Drama

Senin, 30 Desember 2024 - 14:57:00 WIB
Kaleidoskop 2024: Pilpres AS yang Penuh Drama
Kaleidoskop 2024: Pilpres AS yang penuh drama (Foto: AP)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2024 (Pilpres AS 2024) telah berlangsung pada 5 November lalu. Hasilnya Donald Trump memenangkan pertarungan kali ini, menjadikannya sebagai presiden ke-47 AS untuk dua periode yang tak berurutan.

Hasil proyeksi Pilpres AS 2024, Trump menang dengan meraup 312 suara elektoral, melawan Harris yang mengumumpulkan 226 suara. Hasil tersebut disahkan oleh Electoral College pada 17 Desember lalu. Trump menjabat presiden AS untuk periode pertama pada 2017 hingga 2021. Dia dikalahkan Joe Biden dalam Pilpres AS 2020.

Dalam pilpres kali ini Biden tak jadi maju setelah mengundurkan diri pada Juli. Ada desakan kuat dari banyak pihak agar dia tak mencalonkan kembali terkait masalah kesehatan.

Peristiwa ini bisa dibilang sebagai drama pertama seputar Pilpres AS 2024. Biden menjadi capres pertama yang mengundurkan diri di tengah pencalonannya sejak 50 tahun terakhir.

Beberapa drama atau kejadian seputar pelaksanan pilpres ternyata memberikan pengaruh besar terhadap proses demokrasi yang sedang berlangsung di Negeri Paman Sam. 

Berikut beberapa drama yang mewarnai perjalanan Pilres AS 2024:

1. Pengunduran diri Joe Biden

Biden secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya sebagai kandidat presiden AS pada 21 Juli 2024. Pemgumuman mengejutkan itu disampaikan melalui media sosial X setelah desakan kuat mengalir dari banyak pihak, bahkan dari internal Partai Demokrat.

Semua bermula dari debat capres AS pertama yang digelar pada 27 Juni.  Saat itu Biden tampak kewalahan menjelaskan ide-idenya dalam adu argumen melawan Trump.

Kekhawatiran banyak kalangan atas kesehatan mental dan kemampuan kognitifnya di usia 81 tahun menjadi batu sandungan besar bagi politikus senior AS itu untuk melanjutkan jabatan di Gedung Putih untuk periode kedua.

Dorongan agar mundur pun datang dari banyak kalangan, termasuk dari rekan-rekan dan sekutu dekatnya di Partai Demokrat. 

Lebih dari 40 anggota Kongres Partai Demokrat secara terbuka meminta Biden untuk mundur.

Dalam penjelasannya, Biden membantah alasan pengunduran dirinya terkait masalah kesehatan. Dia yakin keputusannya itu adalah yang terbaik bagi AS yakni menyerahkan estafet kepemimpinan kepada orang muda.

“Saya memutuskan bahwa cara terbaik ke depan adalah dengan meneruskan kepemimpinan kepada generasi yang baru. Itu cara terbaik untuk mempersatukan bangsa kita,” katanya.

Setelah itu Biden mendukung wakilnya, Kamala Harris, untuk menggantikan sebagai capres dari Partai Demokrat. Biden lalu memuji Harris sebagai sosok tangguh dan punya kemampuan.

"Dia telah menjadi mitra yang luar biasa bagi saya dan pemimpin negara kita. Kini pilihan ada di tangan Anda, rakyat Amerika," ujarnya.

Tak berselang lama Harris mendapat dukungan dari Demokrat untuk menghadapi Trump.

2. Percobaan Pembunuhan Trump

Publik AS pada 13 Juli dikejutkan dengan percobaan pembunuhan terhadap Trump di Butler, Pennsylvania. Saat itu dia sedang menyampaikan pidato dalam kampanye pilpres.

Peluru melesat mengenai daun telinga kananya setelah dia menengok ke arah kiri. Menurut saksi, Trump baru memulai pidatonya sekitar 6 menit di atas podium. Dia sempat ambruk ke arah belakang podium.

Motif percobaan pembunuhuan itu bisa dibilang masih samar-samar. Pelaku ditembak mati oleh agen Dinas Rahasia setelah melepaskan beberapa tembakan ke arah Trump.

Sejak itu sejumlah anggota parlemen Partai Republik menyalahkan Biden atas penembakan Trump. Mereka mengklaim retorika kampanye Biden mengarah pada percobaan pembunuhan terhadap Trump.

Setidaknya 11 politisi Partai Republik menuding Biden dan Partai Demokrat melakukan penghasutan yang memicu percobaan pembunuhan Trump. 

Banyak dari mereka yang merujuk pada komentar Biden saat melakukan panggilan telepon pribadi dengan para donor Demokrat, beberapa hari sebelumnya. Menurut Politico, Biden mengatakan dalam panggilan telepon tersebut bahwa tugasnya adalah mengalahkan Trump di Pilpres AS 2024. 

“Saya sangat yakin bahwa saya adalah orang terbaik yang bisa melakukan itu. Jadi, kita sudah selesai membicarakan perdebatannya. Ini saatnya menempatkan Trump tepat sasaran,” ucap Biden, saat itu.

Tentu Biden dan pemerintahannya membantah retorika itu. Dia mengutuk serangan terhadap Trump serta menyerukan warga untuk mengecam aksi kekerasan tersebut. 

Sementara itu beberapa politisi Partai Demokrat meyakini upaya pembunuhan Trump meningkatkan peluangnya untuk terpilih kembali. 

NBC News, mengutip beberapa sumber Partai Demorkat, melaporkan pilpres telah berakhir dengan penembakan tersebut.

Seorang sumber mengatakan, sudah waktunya bagi Demokrat untuk fokus saja mempertahankan mayoritas di Senat dan mencoba mengambil alih DPR pada pemilu mendatang. Sebab, peluang calon dari Demokrat untuk memenangkan pertarungan tampaknya makin sulit.

Sumber lain menilai foto-foto Trump berlumur darah di wajahnya serta kepalan tangan ke atas menjadi media kampanye efektif. Foto-foto itu tak akan terlupakan di benak warga AS. Sementara kondisi Partai Demokrat sendiri sedang kacau.

Dukungan bagi Trump silih berganti datang sejak itu, sebut  saja orang terkaya di dunia, Elon Musk. Bukan dukungan kosong-kosong, Musk menggolontorkan triliunan rupiah untuk memenangkan Trump dalam pilpres. Dana itu diberikan kepada kelompok-kelompok aksi politik untuk membantu Trump memenangkan beberapa isu kampanyenya.

Bukan hanya di Butler, setelah itu Trump juga lolos dari percobaan pembunuhan di resor golf pribadinya di West Palm Beach, Florida.

3. Kemenangan Mengejutkan, Trump Taklukkan 7 Negara Bagian Utama

Kemenangan Trump yang sangat meyakinkan dalam pilpres AS bisa dibilang cukup mengejutkan. Pasalnya dalam beberapa survei, perolehan suara populer antara dia dengan Harris sangat ketat dengan margin of error di bawah 3 persen.

Setidaknya sulit untuk menentukan siapa pemenang pilpres saat itu karena tipisnya perolehan suara populer yang sedikit banyak juga akan memengaruhi suara elektoral.

Ada tujuh negara bagian medan pertempuran utama, yakni Georgia, Carolina Utara, Pennsylvania, Michigan, Wisconsin, Arizona, dan Nevada. 

Hasil proyeksi final Pilpres AS 2024 yang dikeluarkan beberapa media pada 10 November atau 5 hari pasca-pemungutan suara, Donald Trump dipastikan menang di seluruh negara bagian medan pertempuran utama dengan 312 suara elektoral, sedangkan Harris 226.

Dalam Pilpres AS 2020, Biden mengalahkan Trump dengan memenangkan 6 dari 7 negara bagian tersebut. Biden hanya kalah tipis di North Carolina. Saat itu Biden meraup 306 suara elektoral, sementara Trump 232.

Sementara itu berdasarkan suara populer proyeksi Associated Press (AP), Trump meraih 74,6 juta suara secara nasional atau 50,5 persen, sedangkan Harris memperoleh 70,9 juta suara atau 48 persen.

Faktor Penentu Kemenangan Trump 

Ada beberapa alasan Trump memenangkan pilpres. Dia dianggap mampu memaksimalkan dukungan di daerah perdesaan Semua orang memperkirakan Trump akan mendominasi daerah pedesaan. 

Trump membangun banyak dukungan di Indiana, Kentucky, Georgia, dan North Carolina. Di daerah pedesaan Pennsylvania, misalnya, tren umum saat suara dihitung adalah bahwa Trump mampu meningkatkan jumlah pemilih dan meningkatkan margin dukungannya di daerah inti Partai Republik. 

Selain itu dukungan Demokrat di antara pemilih kulit berwarna, khususnya orang Latin, terus terkikis.

Jajak pendapat pra-pilpres menunjukkan Trump berada di jalur yang tepat untuk mendapat dukungan dari pemilih nonkulit putih. Terlihat beberapa perubahan dramatis dari tempat-tempat dengan populasi Amerika Latin yang besar.

Contoh yang paling jelas adalah Florida. Negara bagian itu bergerak ke arah yang jelas-jelas Republik demikian pula para pemilih Latinnya. 

Daerah Miami-Dade, yang dulunya merupakan daerah Demokrat yang dapat diandalkan dengan populasi Kuba Amerika yang besar, beralih ke Trump dengan selisih dua digit. 

Alasan lain adalah publik AS ternyata belum siap untuk menerima pemimpin perempuan. Bahkan hal itu disuarakan kalangan kaum hawa. Penyebabnya, AS menghadapi banyak tantangan, bukan hanya di dalam tapi juga terkait kebijakan luar negeri.

Isu gender tampaknya bukan menjadi motivasi seorang perempuan memilih presiden. Mereka lebih menilai dari kapasitas, bukan sekadar sesama jenis kelamin.

Menurut VoteCast, hanya sekitar 1 dari 10 pemilih yang mendukung Harris karena faktor gender. Sementara sekitar seperempatnya menilai calon presiden perempuan sebagai salah satu pendorong penting, namun bukan yang utama. Sekitar 4 dari 10 perempuan menilai gender bukan faktor utama.

Perempuan yang mendukung Trump dalam pilpres AS, Katherine Mickelson, mengatakan kepada Al Jazeera, persaingan menuju Gedung Putih tak didasarkan atas gender semata, namun faktor lain yang lebih besar. Menurut mahasiswi berusia 20 tahun asal Dakota Selatan itu dia memilih presiden karena kapasitasnya dalam nilai dan isu seperti bagaimana menangani permasalan ekonomi.

"Meskipun saya kira banyak perempuan ingin melihat presiden perempuan, termasuk saya, kita tidak akan begitu saja memilih seorang perempuan," ujarnya.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut