Junta Niger Batalkan Pakta Militer dengan Prancis, Setop Hubungan Diplomatik dengan AS
Pada 26 Juli, Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres) Niger menggulingkan Presiden Mohamed Bazoum dari kekuasaan. Komandan Paspampres, Jenderal Abdourahmane Tchiani, mendeklarasikan diri sebagai pemimpin baru negara itu.
Otoritas baru Niger mendesak masyarakat internasional untuk memprotes Prancis, yang telah menjalankan pemerintahan kolonial atas Niger selama lebih dari 60 tahun. Junta juga memprotes ECOWAS atas kemungkinan intrusi pasukan mereka ke Niger.
Kekhawatiran para pelaku kudeta meningkat Minggu (30/7/2023) lalu setelah ECOWAS mengancam akan menggunakan kekuatan jika Bazoum tidak kembali berkuasa dalam waktu sepekan.
Pada Minggu, ECOWAS memberi waktu satu minggu kepada para pemimpin kudeta Niger untuk mengembalikan presiden yang ditahan. Jika tidak, persatuan negara-negara Afrika itu bakal menggunakan semua tindakan, termasuk militer, untuk memulihkan ketertiban di negara Niger.
Selain itu, ECOWAS menangguhkan semua bantuan keuangan ke Niger, membekukan aset para pemberontak, keluarga, dan para pendukung mereka. ECOWAS juga memberlakukan larangan penerbangan komersial dari dan ke negara tersebut.
Sementara itu, pemerintahan sementara Mali dan Burkina Faso memperingatkan ECOWAS bahwa setiap intervensi militer terhadap Niger akan dianggap sebagai pernyataan perang terhadap mereka.
Editor: Ahmad Islamy Jamil