Israel Pusing, Senjatanya Terlalu Canggih untuk Cegat Drone Murah Hizbullah
Menurut analis Institut Studi Keamanan Nasional Israel, salah satu masalah utama adalah Israel tidak mempersiapkan diri menghadapi ancaman berteknologi rendah. Sistem pertahanan yang dirancang untuk menghadapi rudal dan drone canggih justru kesulitan menghadapi perangkat kecil, murah, dan sederhana.
Tak Beri Ampun! Drone Hizbullah Hantam Pasukan Israel yang Sedang Berkumpul
Drone Hizbullah menggunakan teknologi yang tidak biasa. Alih-alih mengandalkan sinyal GPS atau radio seperti drone modern, perangkat ini dikendalikan melalui kabel serat optik yang terhubung langsung ke operator di darat hingga puluhan kilometer. Akibatnya, drone tidak memancarkan sinyal elektronik yang bisa dilacak atau dijamming.
Pakar keamanan Arie Aviram menjelaskan, karena tidak menggunakan transmisi radio, drone ini tidak dapat dideteksi oleh sistem intelijen elektronik maupun dilumpuhkan melalui peperangan elektronik. Kondisi ini memaksa pasukan Israel hanya mengandalkan radar atau pengamatan visual, yang seringkali terlambat.
Selain sulit dicegat, drone ini juga sangat murah. Biaya perakitannya hanya berkisar ratusan hingga sekitar 4.000 dolar AS, tergantung kualitas komponen. Sebaliknya, sistem pertahanan udara Israel dan jet tempur yang digunakan untuk mencegat target bernilai jauh lebih mahal.
Fenomena ini menjadi contoh nyata peperangan asimetris, di mana pihak dengan sumber daya terbatas mampu menekan lawan yang memiliki teknologi lebih maju. Hizbullah juga dinilai berhasil beradaptasi dengan cepat, beralih dari serangan roket ke penggunaan drone yang lebih presisi dan sulit ditangkal.