Israel Berusaha Pengaruhi Kebijakan AS, Wapres JD Vance Minta Pejabat Waspada
WASHINGTON, iNews.id - Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat (AS) JD Vance mengungkap Israel berusaha memengaruhi kebijakan politik AS. Meski menganggap langkah tersebut sebagai hal wajar dalam hubungan antarnegara, Vance mengingatkan para pejabat AS agar selalu mengutamakan kepentingan nasional dibanding kepentingan negara lain.
Menurut Vance, setiap negara yang memiliki hubungan erat dengan Washington tentu akan berupaya memengaruhi arah kebijakan AS. Namun dia menegaskan, pemerintah AS harus tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan.
"Israel, seperti banyak negara lain, berupaya memengaruhi politik Amerika. Saya menganggap itu sebagai hal yang wajar," kata Vance kepada stasiun televisi CBN, dikutip Selasa (23/6/2026).
Dia menambahkan, para pejabat AS harus selalu memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil benar-benar didasarkan pada kepentingan nasional AS.
"Israel adalah mitra yang baik, sama seperti Inggris atau Prancis adalah mitra yang baik. Itu tidak berarti bahwa kita akan selalu memiliki kepentingan yang selaras," ujarnya.
Dalam wawancara terpisah, Vance menegaskan, kritik terhadap Israel tidak otomatis dapat dianggap sebagai tindakan anti-Semit. Dia bahkan mengecam serangan Israel yang terus berlangsung di Lebanon karena dinilai mengganggu upaya perdamaian yang sedang dibangun Amerika Serikat bersama Iran.
"Setiap kritik terhadap keputusan kebijakan Bibi (Benjamin) Netanyahu belum tentu mengarah pada anti-Semitisme," katanya.
Vance mengungkapkan Presiden Donald Trump memiliki sejumlah perbedaan pandangan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait cara mengakhiri konflik dengan Iran. Menurut dia, Trump telah menyampaikan pesan yang sangat tegas mengenai perbedaan tersebut.
"Presiden Trump menyampaikan pesan yang sangat tegas, yakni dia memiliki banyak perbedaan pendapat dengan Netanyahu mengenai bagaimana cara mengakhiri perang melawan Iran," ujarnya.
Seperti diketahui, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Konflik tersebut kemudian mereda setelah Trump mengumumkan gencatan senjata pada 7 April waktu Washington DC.
Editor: Anton Suhartono