Ismail Sabri Jadi PM, Mahathir malah Singgung Malaysia Negara Terburuk di Dunia Tangani Covid
Mahathir memang jarang memberikan komentar sejak Muhyiddin Yassin mengundurkan diri sebagai perdana menteri pada Senin lalu. Jauh sebelum itu, dia merupakan politikus oposisi yang paling getol mendesak Muhyiddin mundur, mulanya karena ketidakpercayaan atas dukungan mayoritas parlemen yang didapat pada tahun lalu.
Selain itu Mahathir juga berkali-kali mengkritik kebijakan pemerintahan Muhyiddin dalam penanganan wabah Covid-19 termasuk pemberlakuan keadaan darurat nasional yang disertai dengan lockdown ketat.
Muhyiddin ditunjuk sebagai perdana menteri pada Maret 2020 oleh Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Abdullah, menggantikan Mahathir yang mengundurkan diri setelah terjadi konflik di internal koalisi Pakatan Harapan dengan Anwar Ibrahim.
Sebelumnya Anwar yang juga kandidat kuat perdana menteri baru menerima keputusan Raja yang memutuskan Ismail Sabri Yaakob sebagai pengganti Muhyiddin. Dia juga mengajak para pendukungnya untuk menerima hasil tersebut dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk lebih mempersiapkan diri menghadapi Pemilihan Umum Raya (PUR) pada 2023 mendatang.
"Dengan penuh rasa hormat, saya mewakili oposisi menjunjung tinggi keputusan Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong atas pelantikan Dato Sri Ismail Sabri Yaakob sebagai Perdana Menteri. Kepada semua pimpinan, anggota, dan pendukung, kami minta untuk menerima keputusan ini untuk lebih ulet, bekerja lebih gigih, menuju PUR-15 agar kita dapat memenangkan semua mandat rakyat yang telah kita terima dalam Pemilihan Umum Raya yang lalu," kata Presiden Partai Keadilan Rakyat (PKR) itu.
Dia juga mengajak semua pihak untuk berdoa agar Malaysia segera pulih dari wabah Covid-19.
"Marilah kita sama-sama berdoa dan berusaha agar krisis wabah Covid-19 dan perekonomian bisa segera diatasi dan ditangani demi rakyat," ujar pria yang pernah menjabat Wakil Perdana Menteri di masa pemerintahan Mahathir itu.
Editor: Anton Suhartono