Tak hanya itu, Moskow juga tidak senang dengan persetujuan Armenia untuk menjadi tuan rumah latihan militer bersama dengan Amerika Serikat, di samping kunjungan kemanusiaan ke Ukraina oleh istri Perdana Menteri Nikol Panshinyan. Padahal, Armenia menjadi tuan rumah pangkalan militer Rusia dan hampir sepenuhnya bergantung pada Rusia untuk pasokan pertahanan.
PM Armenia Sebut Misi Penjaga Perdamaian Rusia di Karabakh Gagal, Begini Reaksi Kremlin
Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pekan ini, Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan mengatakan, kebijakan negaranya yang selama ini hanya mengandalkan Rusia untuk menjamin keamanannya adalah kesalahan strategis. Dia mengatakan Moskow, yang terganggu oleh perangnya dengan Ukraina, tidak mampu mewujudkannya dan mengurangi perannya dalam mewujudkan perdamaian di Kaukasus Selatan.
Karabakh, yang telah lama dikenal sebagai bagian dari Azerbaijan, sebagian besar dihuni oleh etnik Armenia. Pasukan Armenia merebut wilayah di sekitar Karabakh ketika Uni Soviet runtuh pada 1990-an. Akan tetapi, Azerbaijan merebut kembali wilayah tersebut dalam konflik enam minggu pada 2020 yang berakhir dengan gencatan senjata yang ditengahi Rusia. Perundingan antara Baku dan Yerevan sampai sejauh ini gagal mencapai perdamaian jangka panjang.
Bentrok Lagi, Armenia Tuduh Azerbaijan Bunuh 2 Tentaranya di Nagorno-Karabakh
Armenia mengeluh bahwa pasukan penjaga perdamaian Rusia yang mengawasi gencatan senjata 2020 gagal mengakhiri blokade Azerbaijan di Nagorno-Karabakh. Yerevan juga secara terbuka mempertanyakan apakah mereka akan tetap berada di Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO), sebuah aliansi militer enam negara bekas Uni Soviet yang dipimpin Rusia.
Penasihat kebijakan luar negeri Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya siap mengizinkan bantuan Palang Merah dari Armenia ke Nagorno-Karabakh jika bantuan Bulan Sabit Merah dari Azerbaijan juga diizinkan masuk pada saat yang bersamaan.
Editor: Ahmad Islamy Jamil