Heboh! Israel Diduga Mata-matai Pejabat AS terkait Perang Iran
Meski AS berbagi informasi intelijen taktis dan operasional kepada Israel, para pejabat yakin Israel sedang mencari wawasan lebih dalam mengenai strategi negosiasi Trump dan sikap yang berkembang dalam perundingan tersebut.
Peringatan intelijen itu bisa mempersulit integrasi militer lebih lanjut jika Departemen Pertahanan (Pentagon) mengambil langkah drastis dengan membatasi pertukaran informasi dengan perwira Israel.
Ketegangan antara AS dan Israel meningkat setelah Trump mengubah pendekatannya terhadap Iran, yakni dengan mempriorotaskan diplomasi. Di lain pihak, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berupaya ingin melemahkan Iran, pemerintahnya, serta sekutu regional seperti Hizbullah, dengan pendekatan militer.
Laporan DIA tersebut menyusul insiden di mana personel pertahanan AS di Israel menemukan perangkat lunak yang dipasang secara diam-diam di ponsel mereka yang berfungsi untuk membocorkan komunikasi.
Pentagon menolak berkomentar mengenai insiden tersebut, seorang pejabat Gedung Putih juga membanah tuduhan itu dengan menyebut klaim tersebut tidak benar. Pemerintah Israel juga membantah memata-matai pejabat atau entitas AS.
Para pejabat AS saat ini serta mantan pejabat menegaskan, Israel telah lama melakukan operasi intelijen agresif terhadap sekutu dan musuh. Israel saat ini memberikan kekhawatiran kontraintelijen lebih besar daripada sekutu AS lainnya, bahkan beberapa musuh.
Seorang pejabat senior juga menggambarkan upaya pengumpulan intelijen Israel selama pemerintahan kedua Trump sebagai tidak terkendali.
Editor: Anton Suhartono