Dunia Ramai-Ramai Kecam Israel setelah Video Penyiksaan Aktivis GSF Beredar, Panggil Dubes
JAKARTA, iNews.id - Kecaman terhadap Israel datang dari banyak nagara terkait penyiksaan terhadap para aktivisGlobal Sumud Flotilla (GSF). Sebelumnya Menteri Keamanan Nasional Israel merilis video menunjukkan, ratusan aktivis internasional dipaksa berlutut dengan tangan terikat ke belakang, sementara dahi mereka menempel ke lantai.
Video lain yang diposting Menteri Perhubungan Israel Miri Regev menunjukkan dia menyebut para aktivis sebagai “pendukung teror” dan “dibius dengan alkohol.”
Menteri Luar Negeri (Menlu) Polandia Radoslaw Sikorski menuntut keadilan bagi warganya.
“Anda tidak boleh memperlakukan warga Polandia yang tidak melakukan kejahatan dengan cara ini,” kata Sikorski, di media sosial X.
Di dunia demokrasi, lanjut dia, Israel tidak boleh menyalahgunakan dan bersenang-senang di atas penderitaan orang-orang yang ditahan.
“Kami menuntut keadilan bagi warga kami dan konsekuensi bagi Anda,” ujarnya, seperti dikutip dari Anadolu, Kamis (21/5/2026).
Perdana Menteri Kanada Mark Carney turut mengecam Israel denga menyebut tindakan tersebut sebagai perlakuan keji. Dia mendesak Israel agar memastikan keselamatan dan keamanan warga Kanada.
"Perlakuan keji terhadap warga sipil di atas kapal bantuan, termasuk yang didokumentasikan dalam rekaman yang dibagikan Ben Gvir, tidak bisa diterima," tulis Carney, di X.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Kanada telah memanggil duta besar Israel di Ottawa untuk meminta jaminan keselamatan dan keamanan warga Kanada, peserta misi kemanusiaan GSF.
"Kanada telah memberlakukan sanksi ketat terhadap Ben Gvir, termasuk pembekuan aset dan larangan perjalanan, sebagai tanggapan atas hasutan kekerasan yang berulang kali dilakukannya," katanya, seraya menegaskan perlindungan warga sipil dan penghormatan terhadap martabat manusia harus dijunjung tinggi di mana pun, setiap saat.
Komisaris Eropa untuk Kesetaraan, Kesiap-siagaan dan Manajemen Krisis, Hadja Lahbib, juga mengkritik perlakuan terhadap aktivis GSF.
“Mereka bukan penjahat yang dihukum. Mereka adalah aktivis yang berusaha memberi roti kepada orang-orang yang kelaparan. Aktivisme damai dan kebebasan berkumpul adalah hak-hak fundamental,” kata Lahbib, di X.
Dia menegaskan warga sipil harus dilindungi dan hukum humaniter internasional harus dihormati.
"Tidak seorang pun boleh dihukum karena membela kemanusiaan,” katanya.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Swiss menganggap perlakuan Israel terhadap aktivis GSF tidak dapat diterima. Disebutkan perlakuan Israel tidak konsisten dengan hukum internasional dan hak-hak fundamental.
“Kementerian Luar Negeri Federal (FDFA) menyesalkan perlakuan yang tidak dapat diterima terhadap peserta, yang tampaknya tidak konsisten dengan jaminan yang diterima dari otoritas Israel mengenai penghormatan terhadap hukum internasional dan hak-hak fundamental,” bunyi permyataan.
Menlu Austria Beate Meinl-Reisinger mengutuk rekaman yang dibagikan Ben Gvir.
“Video yang dibagikan oleh Menteri Kepolisian sayap kanan Ben Gvir mengenai perlakuan terhadap para aktivis sama sekali tidak dapat diterima,” tulis Meinl-Reisinger, dalam unggahan di media sosial X.
Dia memuji mitranya dari Israel, Gideon Saar, yang juga mengutuk perlakuan itu dengan keras.
"Hari ini, kami menyampaikan kemarahan kami kepada Kedutaan Besar Israel di Wina," kata Meinl-Reisinger.
Dia menambahkan Austria berulang kali mendesak Israel untuk menahan diri sepenuhnya dalam menangani aktivis GSF dan untuk mematuhi hukum internasional.
PBB menuntut agar Israel memperlakukan para aktivis GSF dengan hormat dan bermartabat.
Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan setiap tahanan GSF harus diperlakukan dengan hormat dan bermartabat, siapa pun mereka.
“Saya kira semua orang yang telah ditahan harus segera dipulangkan ke negara masing-masing,” kata Dujarric.
Editor: Anton Suhartono