Ditengahi Trump, Armenia dan Azerbaijan Berdamai Setelah Perang Puluhan Tahun
Dalam deklarasi bersama, Pashinyan dan Aliyev menyampaikan rasa terima kasih kepada Trump atas pertemuan di Washington DC seraya mengungkapkan keyakinan bahwa pertemuan tersebut akan menjadi fondasi kuat bagi kemajuan perdamaian di kawasan.
"Kami dan Presiden Donald J Trump dari Amerika Serikat menyaksikan penandatanganan naskah Perjanjian tentang Pembentukan Perdamaian dan Hubungan Antarnegara antara Republik Azerbaijan dan Republik Armenia yang telah disepakati oleh para Menteri Luar Negeri kedua pihak," bunyi deklarasi.
Dokumen juga menetapkan para menlu Armenia dan Azerbaijan telah menandatangani permohonan bersama yang meminta agar Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama Eropa (OSCE) untuk penyelesaian status Karabakh dibubarkan.
"Persyaratan telah dibuat kepada bangsa kita untuk akhirnya memulai membangun hubungan bertetangga yang baik berdasarkan kekekalan batas-batas internasional dan tidak diterimanya penggunaan kekuatan untuk merebut wilayah setelah konflik yang mengakibatkan penderitaan manusia yang luar biasa," demikian isi deklarasi.
Armenia dan Azerbaijan telah beberapa kali berperang memperebutkan Nagorno-Karabakh, wilayah pegunungan yang disengketakan, sejak negara tersebut mendeklarasikan pemisahan diri dari Soviet pada 1988. Pada September 2023, Azerbaijan mengambil alih wilayah tersebut yang memicu eksodus besar-besaran penduduk etnis Armenia.