Daftar Pesawat Tempur dan Peralatan Militer AS Hancur Dibom Iran, Termahal Pesawat Rp8,5 Triliun
WASHINGTON, iNews.id - Serangan bertubi-tubi Iran selama sebulan terakhir dilaporkan menghancurkan sejumlah pesawat tempur dan peralatan militer Amerika Serikat (AS). Mulai dari pesawat mata-mata canggih hingga radar pertahanan rudal bernilai miliaran dolar, kerugian Washington disebut mencapai angka fantastis.
Berikut daftar pesawat tempur dan alutsista AS yang hancur atau rusak akibat serangan Iran, sebagaimana dirilis Anadolu:
1. Pesawat Mata-mata E-3G Sentry (AWACS)
Pesawat E-3G Sentry menjadi salah satu kerugian terbesar. Pesawat ini hancur total akibat serangan Iran di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi, pada 27 Maret. Nilainya diperkirakan mencapai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp8,5 triliun.
Iran Klaim Tembak Jatuh Jet Tempur F-35 AS
2. Pesawat Tanker KC-135 Stratotanker
AS kehilangan beberapa unit KC-135 Stratotanker, termasuk satu yang jatuh di Irak dan menewaskan enam kru. Tiga unit lainnya juga hancur dalam serangan di pangkalan udara. Total kerugian diperkirakan sekitar 320 juta dolar.
Iran Tembak Jatuh Jet Tempur F-15 AS di Langit Irak, Pilot Diburu
3. Drone MQ-9 Reaper
Sebanyak 15 unit MQ-9 Reaper dilaporkan ditembak jatuh. Dengan harga sekitar 30 juta dolar per unit, total kerugian mencapai sekitar 450 juta dolar.
Jet Tempur F-15 AS Jatuh di Kuwait, Sang Pilot Diancam Warga Pakai Kayu
4. Helikopter UH-60M Black Hawk
Helikopter UH-60M Black Hawk hancur akibat serangan drone FPV di Irak. Nilai kerugiannya sekitar 20 juta dolar AS.
5. Jet Tempur F-15E Strike Eagle
Tiga unit F-15E Strike Eagle hancur dalam insiden salah sasaran di Kuwait. Meski pilot selamat, nilai kerugian diperkirakan mencapai 282 juta dolar.
6. Jet Tempur Siluman F-35
Satu unit F-35 Lightning II mengalami kerusakan setelah terkena tembakan dan harus melakukan pendaratan darurat. Nilai kerusakannya diperkirakan sekitar 100 juta dolar.
7. Sistem Radar AN/TPY-2 (THAAD)
Komponen radar AN/TPY-2 milik sistem pertahanan THAAD mengalami kerusakan di beberapa negara, termasuk Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Total kerugian ditaksir mencapai 2 miliar dolar.