Badai Matahari Terjang Bumi pada 10-11 Oktober, Begini Penampakan Langit Malam
Secara sederhana, badai geomagnetik terjadi saat partikel-partikel yang dilepaskan dari ledakan di permukaan matahari tersebut sampai ke orbit Bumi.
Semakin besar ledakan, maka badai juga semakin kuat, memicu pertunjukan cahaya utara atau aurora borealis yang luar biasa. Bahkan pertunjukan kilauan cahaya malam yang menakjubkan itu tak hanya disaksikan oleh mereka yang tinggal di bagian Bumi paling utara, melainkan lebih ke equator.
Cahaya yang dihasilkan bernuansa hijau neon, ungu, dan merah muda.
Badai kali ini terjadi pada siklus puncak aktivitas matahari yang berlangsung setiap 11 tahun.
Sebenarnya ledakan dahsyat itu terjadi pada 8 Oktober, namun dampaknya baru dirasakan di Bumi pada 10 Oktober. Kecepatan lontaran partikel ledakan itu mencapai 2,4 juta km per jam, tak mencapai puncaknya.
Pusat Prakiraan Cuaca Antariksa mengklasifikasikan badai geomagnetik pada skala G1 hingga 5. G1 merupakan yang terkecil atau minor hingga G5 sebagai 'ekstrem'.
Untuk kejadian ini, pusat prakiraan mengklasifikasikan badai di level G4 atau 'parah'. Ledakan sebelumnya yang terjadi pada Mei 2024 dikategorikan Mei sebagai G5.
Badai ekstrem bisa menyebabkan pemadaman listrik dan kerusakan pada infrastruktur di Bumi. Satelit juga mungkin mengalami kesulitan dalam mempertahankan posisinya di orbit termasuk mengirim atau menerima informasi.
Editor: Anton Suhartono