12 Partai Oposisi Malaysia Bersatu karena Isu Ekonomi: Dari Islamis hingga Sosialis
Isu Ekonomi Jadi Perekat
Meski beragam latar belakang ideologi, partai-partai oposisi sepakat menjadikan isu ekonomi sebagai fokus bersama. Kenaikan biaya hidup dinilai menjadi masalah paling mendesak. Menurut Muhyiddin, meskipun tingkat inflasi relatif rendah, rakyat justru merasakan harga barang kebutuhan sehari-hari terus meningkat.
Kondisi ini diperparah oleh restrukturisasi subsidi bahan bakar yang membuat ongkos logistik naik, serta penerapan pajak penjualan dan jasa (SST) yang sejak 1 Juli diperluas hingga mencakup hampir 6.000 jenis barang dan jasa.
Dampaknya, tidak hanya masyarakat umum yang menjerit, tapi juga pelaku usaha kecil dan menengah.
“Banyak pedagang dan pengusaha mengeluh biaya operasional meningkat. Ini menekan daya saing dan pada akhirnya membebani rakyat,” kata Muhyiddin.
Koalisi Masih Longgar
Meski solid dalam isu ekonomi, Muhyiddin mengakui koalisi ini masih bersifat longgar. Belum ada keputusan apakah aliansi tersebut akan dibawa ke ranah pemilu.
“Apa pun yang kita pikirkan, ada kepentingan bersama menyangkut ekonomi, sosial, dan pendidikan. Kita bisa gunakan platform ini untuk berdiskusi dan mengambil keputusan bersama,” tuturnya.
Bersatunya 12 partai oposisi jelas memberi sinyal kuat kepada pemerintahan Anwar Ibrahim. Jika kelompok Islamis, nasionalis, etnis minoritas, hingga sosialis bisa duduk satu meja karena isu ekonomi, maka tekanan terhadap pemerintah diprediksi semakin besar.
Editor: Anton Suhartono