Terharu, Aurelie Moeremans Tak Menyangka Buku Broken Strings Bantu Banyak Perempuan Muda
Aurelie menjelaskan, proses menulis buku itu sendiri bukanlah perkara mudah. Dia harus membuka kembali ingatan lama dan menuliskannya dengan sangat hati-hati agar kisah yang disampaikan tetap jujur dan bertanggung jawab.
"Ceritanya sudah aku simpan di kepala dan hati bertahun-tahun, tapi menulisnya sendiri aku lakukan secara intens dalam beberapa bulan. Aku nulis pelan-pelan, satu per satu," ungkapnya.
Meski respons publik juga diwarnai polemik, Aurelie memilih melihatnya sebagai bagian dari perjalanan. Bagi dia, makna terbesar Broken Strings terletak pada kemampuannya menemani dan menguatkan perempuan muda yang selama ini kesulitan bersuara.
"Menulis Broken Strings bukan tentang balas dendam atau membuka luka lama. Aku menulis supaya ceritaku bisa jadi teman buat mereka," tegasnya.
Aurelie pun menegaskan bahwa dukungan yang datang dari para pembaca menjadi alasan terkuat baginya untuk menerima segala konsekuensi yang menyertai peluncuran buku tersebut.
Editor: Muhammad Sukardi