Reaksi Clara Shinta Lihat Video Panas Suaminya dengan Wanita Lain, Gemetaran!
Menurut Cleveland Clinic, ketika seseorang mengalami ketakutan atau kecemasan, otak akan mengirim sinyal bahaya ke seluruh tubuh. Respons ini kemudian mengaktifkan sistem saraf yang memicu pelepasan hormon stres seperti adrenalin.
Hormon tersebut membuat tubuh bersiap menghadapi ancaman, meski ancamannya tidak selalu nyata secara fisik.
Dalam kondisi ini, tubuh mengalami berbagai perubahan cepat, seperti detak jantung meningkat, napas menjadi lebih cepat, dan otot-otot menegang.
Harvard Medical School menyebutkan, gemetar terjadi karena otot berada dalam kondisi sangat aktif akibat rangsangan saraf yang tinggi. Tubuh pada dasarnya sedang dipersiapkan untuk bergerak cepat, baik untuk melawan maupun menghindar.
Sementara itu, American Psychological Association menjelaskan bahwa kondisi panik dapat menyebabkan tubuh masuk ke fase hyperarousal, yaitu keadaan siaga tinggi. Pada fase ini, gejala fisik seperti gemetar, berkeringat, dan jantung berdebar menjadi hal yang umum terjadi.
Hal senada juga disampaikan NHS. Lembaga kesehatan Inggris ini menegaskan bahwa tubuh tidak selalu bisa membedakan ancaman fisik dengan tekanan emosional.
Artinya, kabar mengejutkan, stres berat, atau kecemasan berlebih pun bisa memicu reaksi yang sama seperti saat menghadapi bahaya nyata.
Editor: Muhammad Sukardi