Dolar Tembus Rp18.000, Bimbim Slank Singgung Krisis 1998
Meski biaya operasional meningkat, Bimbim memastikan Slank tidak akan menaikkan tarif manggung. Dia mengaku tidak tega jika harus membebankan kenaikan biaya kepada promotor atau penyelenggara acara.
"Nggak mungkin (naikin harga). Kasihan yang mau manggil Slank," ucapnya.
Di tengah situasi ekonomi yang dinilai semakin berat, Bimbim kemudian menyinggung krisis moneter 1998. Saat itu, kurs dolar sempat menyentuh kisaran Rp16.000 dan menjadi salah satu pemicu gejolak besar di Indonesia.
Menurut dia, kondisi saat ini memiliki perbedaan mendasar dibandingkan 1998, terutama dalam hal ruang berekspresi dan kebebasan masyarakat untuk menyampaikan kritik.
"Tapi hari ini selama... yang tadi gue bilang kan bahwa selama seni, budaya, lagu, kebebasan ekspresi nggak dibungkam, aku rasa masih bisa menenangkan masyarakat. Tapi kalau dilarang, dibungkam, mungkin bisa meledak," kata Bimbim.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena muncul di tengah melemahnya rupiah yang kini telah melampaui level kurs saat krisis 1998. Bagi Bimbim, menjaga ruang kebebasan berekspresi menjadi salah satu faktor penting agar masyarakat tetap dapat menyalurkan aspirasi di tengah tekanan ekonomi yang sedang terjadi.
Editor: Dani M Dahwilani