Deretan Pantangan saat Tahun Baru Imlek, Tak Boleh Makan Bubur hingga Bersihkan Rumah
Jangan Makan Bubur atau Daging untuk Sarapan
Bubur secara simbolik dianggap sebagai makanan sederhana yang identik dengan kesulitan ekonomi. Karena itu, menyantap bubur di pagi hari pertama Imlek dipercaya bisa membawa kesan kurang sejahtera sepanjang tahun.
Sementara itu, sebagian tradisi juga menganjurkan tidak mengonsumsi daging saat sarapan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada dewa-dewa yang dipercaya turun memberi berkah pada malam Imlek.
Hindari Mencuci atau Memotong Rambut
Mencuci atau memotong rambut pada hari pertama Imlek diyakini dapat “membuang” keberuntungan. Dalam bahasa Mandarin, kata rambut memiliki bunyi yang mirip dengan kata yang bermakna kemakmuran.
Karena kesamaan bunyi tersebut, aktivitas ini dihindari agar rezeki tidak ikut terpotong atau terhanyut. Banyak orang memilih menunda potong rambut hingga beberapa hari setelah perayaan.
Tidak Mencuci Pakaian dan Menggunakan Alat Tajam
Mencuci pakaian pada awal tahun juga dipercaya dapat mengalirkan keberuntungan keluar dari rumah. Air dalam simbolisme budaya Tionghoa sering dikaitkan dengan rezeki dan kekayaan.
Selain itu, penggunaan alat tajam seperti gunting dan pisau untuk menjahit atau aktivitas lain juga dihindari. Alat tajam dikaitkan dengan potensi konflik atau perpecahan dalam rumah tangga.
Perhatikan Jumlah Uang dalam Angpao
Saat memberikan angpao, jumlah uang dengan angka tertentu biasanya dihindari. Angka empat, misalnya, kerap tidak digunakan karena pelafalannya mirip dengan kata kematian dalam bahasa Mandarin.
Sebaliknya, angka delapan lebih disukai karena melambangkan keberuntungan dan kemakmuran. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam menjaga simbol positif selama perayaan Tahun Baru Imlek.
Pantangan-pantangan tersebut bukan sekadar aturan, melainkan bagian dari warisan budaya yang sarat makna simbolik. Meski tidak semua orang mempraktikkannya, nilai yang terkandung di dalamnya tetap menjadi pengingat untuk memulai tahun baru dengan harapan dan energi positif.
Editor: Dani M Dahwilani