Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Payudara Bengkak saat Menyusui Jangan Dianggap Biasa, Bisa Jadi Gejala Mastitis
Advertisement . Scroll to see content

Abel Cantika Cerita Perjuangan Menyusui Anak Kedua, Alami Payudara Bengkak hingga Puting Lecet

Jumat, 03 Juli 2026 - 11:58:00 WIB
Abel Cantika Cerita Perjuangan Menyusui Anak Kedua, Alami Payudara Bengkak hingga Puting Lecet
Selebgram Abel Cantika. (Foto: Instagram)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Influencer parenting Abel Cantika membagikan pengalaman berat yang dialaminya saat menyusui anak kedua. Meski telah memiliki pengalaman sebagai ibu, dia justru menghadapi tantangan yang lebih besar dibandingkan ketika menyusui anak pertama.

Abel Cantika mengaku sempat berpikir proses menyusui kali ini akan berjalan lebih mudah, karena sudah mengetahui berbagai teori dan persiapan yang diperlukan. Namun kenyataannya, masa-masa setelah melahirkan justru menjadi fase yang penuh perjuangan.

"Waktu anak kedua lahir, saya pikir semuanya akan lebih gampang karena sudah punya pengalaman. Ternyata praktiknya jauh lebih sulit," ujar Abel dalam acara peluncuran Momcozy Air 1 by TNP Group di Jakarta Convention Center (JCC), belum lama ini.

Momen Abel Cantika bercerita soal pengalaman menyusui anak kedua. (Foto: Istimewa)
Momen Abel Cantika bercerita soal pengalaman menyusui anak kedua. (Foto: Istimewa)

Sejak masa kehamilan, Abel mengatakan dirinya telah mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk menyusui, mulai dari kesiapan mental, nipple cream, hingga pompa ASI. Sayangnya, semua persiapan tersebut tidak membuat proses menyusui berjalan semulus yang dibayangkan.

Pada bulan pertama setelah melahirkan, dia mengalami puting lecet yang cukup parah disertai payudara bengkak akibat oversupply atau produksi ASI yang berlebihan. Kondisi tersebut membuat setiap sesi menyusui menjadi momen yang menyakitkan.

"Setiap sesi menyusui rasanya seperti harus menyiapkan diri menahan sakit. Tapi di sisi lain, bayi tetap harus minum," katanya.

Dari pengalaman tersebut, Abel juga menyoroti anggapan yang masih banyak berkembang di kalangan ibu menyusui bahwa freezer yang penuh stok ASI merupakan simbol keberhasilan.

Menurut dia, persepsi tersebut kurang tepat. Produksi ASI yang berlebihan justru dapat menimbulkan berbagai masalah, mulai dari pembengkakan payudara hingga sumbatan ASI.

"Banyak yang bangga freezer penuh ASI. Padahal oversupply juga tidak nyaman dan bisa menyakitkan. Yang terpenting sebenarnya bukan berlebih, tetapi cukup untuk kebutuhan bayi," ujarnya.

Pengalaman itu membuat Abel menyadari bahwa kenyamanan ibu menjadi salah satu faktor penting agar proses menyusui berjalan lancar. Karena itu, dia kini lebih memperhatikan penggunaan pompa ASI yang nyaman, terutama karena aktivitasnya sebagai ibu sekaligus content creator mengharuskannya tetap produktif.

"Tidak harus hisapannya sakit untuk bisa efektif. Saat ibu nyaman, ASI biasanya keluar lebih lancar," ucapnya.

Sementara itu, konselor menyusui Desyntia Inten Dwi Lestari mengatakan puting lecet dan payudara bengkak merupakan keluhan yang sangat umum dialami ibu menyusui. Menurutnya, sekitar 98 persen ibu pernah mengalami salah satu kondisi tersebut selama masa laktasi.

Dia menjelaskan, masalah yang dialami ibu menyusui bukan semata-mata karena produksi ASI, melainkan juga kurangnya edukasi mengenai teknik menyusui dan memompa ASI yang benar.

Desyntia mengingatkan agar ibu tidak menunggu payudara terasa penuh sebelum memompa ASI. Jika dibiarkan terlalu lama, kondisi tersebut berisiko menyebabkan sumbatan ASI, mastitis, hingga abses yang memerlukan penanganan medis.

"Jangan menunggu sampai payudara terasa sangat penuh. Pengosongan secara rutin penting untuk menjaga produksi ASI tetap optimal," katanya.

Dia menambahkan, hormon oksitosin yang berperan dalam pengeluaran ASI sangat dipengaruhi kondisi psikologis ibu. Saat ibu merasa rileks, nyaman, dan bahagia, produksi serta pengeluaran ASI umumnya akan berlangsung lebih optimal.

Dalam kesempatan yang sama, Brand Manager TNP Group, Hanindya Christiana, mengatakan inovasi pompa ASI wearable dirancang untuk mendukung kebutuhan ibu menyusui, terutama mereka yang memiliki mobilitas tinggi lahir dari kebutuhan ibu masa kini.

"Banyak ibu yang harus memompa ASI di kantor, saat perjalanan, bahkan di ruang publik. Karena itu, perangkat harus ringan, senyap, dan diskret agar ibu tetap nyaman," ujar Hanindya.

Fenomena yang dialami banyak ibu, termasuk Abel Cantika, menunjukkan bahwa tantangan menyusui bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan nutrisi bayi. Proses tersebut juga sangat erat kaitannya dengan kesehatan fisik dan mental ibu.

Di tengah meningkatnya jumlah perempuan yang tetap aktif bekerja setelah melahirkan, edukasi laktasi, dukungan keluarga, serta akses terhadap teknologi pendukung dinilai menjadi faktor penting agar ibu dapat memberikan ASI secara optimal tanpa mengorbankan kesehatan maupun produktivitasnya.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut