Teks khutbah Jum'at tentang Tujuan Hidup Manusia
Ibnu Abdil Bar menafsirkan makna liya’budun adalah liyuqirru bi al-‘ubudiyah dhau’an au karhan (berusaha konsisten pada nilai ibadah dalam keadaan gembira ataupun susah). Terkadang memang ibadah ada yang kita sukai ataupun tidak. Dan itu kita dituntut untuk selalu menarik nilai ibadahnya.
Maka dari itu, keberhasilan yang sesungguhnya bukanlah atas seberapa tinggi jabatan yang kita peroleh, banyak harta yang dikumpulkan, atau luasnya ilmu yang kita paham. Kalau pun itu tidak dilandasi dengan orientasi pengabdian kepada Allah, maka tidak berguna.
Dengan demikian keberhasilan yang sesungguhnya, yakni seberapa tinggi kita mendapatkan pengabdian kepada Allah. Kita dapat meniru kisah berikut ini:
عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: «خَدَمْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ بِالْمَدِينَةِ وَأَنَا غُلَامٌ لَيْسَ كُلُّ أَمْرِي كَمَا يَشْتَهِي صَاحِبِي أَنْ أَكُونَ عَلَيْهِ مَا قَالَ لِي فِيهَا أُفٍّ قَطُّ، وَمَا قَالَ لِي لِمَ فَعَلْتَ هَذَا أَوْ أَلَّا فَعَلْتَ هَذَا»
Dari Anas: Saya menjadi abdi ndalem Rasulullah selama sepuluh tahun saat di Madinah. Saat itu saya masih bocah. Rasulullah tidak pernah mengucap kepada saya perkataan “heh, ah, huh, hmm” sekalipun. Dan tidak pernah mengomentari “kenapa kamu begini, kenapa kamu tidak begitu”.